Share

Kisah Ki Hajar, 52 Tahun Jadi Guru Honorer di Pelosok dan Bermimpi Menjadi PNS Sebelum Pensiun

M Purwadi, Koran SI · Rabu 27 Juli 2022 08:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 26 624 2636490 kisah-ki-hajar-52-tahun-jadi-guru-honorer-di-pelosok-dan-bermimpi-menjadi-pns-sebelum-pensiun-FWw9t0HdpT.jpg Kisah Ki Hajar, 52 tahun menjadi guru honorer/Istimewa

JAKARTA - Hadjarudin Supiana (75) atau yang akrab disapa Ki Hajar, adalah guru honorer di SDN Babakan Sirna, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur.

Ki Hajar sudah mengabdi sebagai guru honorer selama 52 tahu dnegan gaji yang sangat memprihatinkan yaitu Rp350 ribu sebulan.

Meski kondisinya seperti itu, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap mengajar anak=anak sekolah.

Seperti biasa, kakek berusia 75 tahun tersebut tetap semangat berangkat ke sekolah dengan melewati tapal batas antara Cianjur dengan Bandung Barat.

Langkahnya memang tidak setegak semasa muda, namun semangatnya untuk menempuh perjalanan 5 kilometer menuju sekolah tetap terjaga hingga kini.

Ki Hajar merupakan warga Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

Tempat tinggalnya merupakan pelosok di wilayah Kabupaten Cianjur, yang jaraknya sekitar 75 kilometer dari perkotaan.

Sementara tempatnya mengajar kini berada di SDN Babakan Sirna yang berada di Kampung Leuwipanto, RT 01/06, Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, KBB.

Jaraknya sekitar 58 kilometer apabila ditempuh dari Ibu Kota Bandung Barat, Ngamprah.

"Bapak pertama jadi guru dari tahun 1970-an. Waktu itu masih di Cianjur," ucap Hadjarudin yang sangat berharap diangkat PNS sebelum masa pensiun saat berbincang dengan media, baru-baru ini.

Tentunya butuh perjuangan hebat di tengah berbagai keterbatasan. Namun, bagi sosok pria kelahiran 8 Oktober 1947 itu itu bukan hambatan.

Semangatnya tetap membara meskipun upah yang diterimanya jauh dari layak. Hadjarudin mulai mengajar sekitar tahun 1970-an di salah satu sekolah di Kabupaten Cianjur, usai menyelesaikan pendidikan akhirnya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Ketika itu ia menerima upah Rp10 ribu setiap bulannya.

"Bapak pernah nerima Rp10 ribu, kadang Rp15 ribu. Tapi tidak apa-apa, dijalani aja," tutur Hadjarudin.

Singkat cerita, tahun 1973, Hadjarudin pindah mengajar di salah satu sekolah di Bandung Barat yang kala itu masih menjadi bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Bandung.

Ia menjadi guru pelajaran umum atau guru kelas. Ia sangat merasakan betul beratnya perjuangan menjadi tenaga pendidik di daerah perbatasan.

Untuk sampai ke sekolah dari Cianjur ke Bandung Barat, Hadjarudin harus menempuh berkilo-kilo.

Tak jarang ia harus berjalan kaki melewati jalan setapak untuk mempersingkat jarang tempuh dan waktu.

Meskipun terkadang jalan yang dilewatinya licin dan becek sehabis diguyur hujan semalam. Ia tak patah arang, dan terus semangat mengajar.

"Kalau dulu memang suka jalan kaki ke sekolah," ucap Hadjarudin.

Saat usianya belum memasuki batas pensiun, ia sangat ingin sekali ada perhatian dari pemerintah untuk mengangkatnya secara langsung menjadi PNS atas jasa-jasanya sebagai tenaga pendidik di wilayah pelosok.

Bahkan, ia sempat juga mengikuti seleksi menjadi abdi negara. Namun nasib berkata lain. Ia tetap menjadi honorer.

Minim sekali apresiasi yang diterimanya dari pemerintah selama puluhan tahun pengabdiannya. Tercatat ia hanya menerima penghargaan Guru Daerah Terpencil (Gurdacil) dua kali. Ketika itu Hadjarudin menerima sekitar Rp1,7 juta.

Namun setelahnya tidak ada lagi apresiasi.

"Kalau temen-temen saya yang seangkatan udah banyak yang jadi PNS. Cuma saya aja yang gagal waktu ikut tes," tuturnya.

Kini di usia senjanya, ia masih tercatat sebagai guru honorer di SDN Babakan Sirna, Bandung Barat.

Ia merasa masih sanggup untuk mengajar, meskipun harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh.

Dengan upah Rp350 ribu setiap bulannya, Hadjarudin bertugas mengajar sebagai guru kelas II.

Meski berdomisili di Cianjur, ia berharap ada perhatian dari Pemkab Bandung Barat sebab sudah puluhan tahun dirinya mengabdi di wilayah yang kini dipimpin Plt Bupati Hengky Kurniawan itu.

"Kadang saya jalan, tapi sekarang lebih sering antar jemput sama anak angkat saya. Jaraknya ada sekitar 5 kilometer ke sekolah," ucap Hadjarudin.

Kepala Sekolah SDN Babakan Sirna, Dadang Hikmat Subagia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Hadjarudin mengajar disekolah yang dipimpinnya itu sejak tahun 1998.

"Memang dari dulu honorer. Dulu beliau pernah mengajar Bahasa Sunda, tapi sekarang pegang kelas II," terang Dadang.

Bagi para guru lainnya di sekolah tersebut, Hadjarudin merupakan sosok panutan dan senior yang patut ditiru.

Sebab, meskipun hanya berstatus non PNS, semangatnya untuk mendidik tidak pernah kendor.

Termasuk di usia senjanya kini. Dadang mengaku sosoknya masih dibutuhkan hingga saat ini, sebab di SDN Babakan Sirna masih kekurangan tenaga pendidik.

Bahkan, di sekolah tersebut tidak ada guru khusus PJOK, sehingga untuk mata pelajaran olahraga harus diemban oleh guru kelas.

Meski begitu, kata Dadang, pihaknya tidak melarang apabila Hadjarudin sewaktu-waktu ingin berhenti.

"Beliau kami anggap sebagai sesepuh, orang tua kami. Memang sampai sekarang dibutuhkan karena beliau pegang kelas karena ada guru honor yang pindah," ujar Dadang.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini