JAKARTA - Mendapatkan ijazah merupakan hak setiap siswa yang sudah menyelesaikan masa belajarnya di sekolah. Sayangnya, potret penahanan ijazah oleh pihak sekolah masih kerap terjadi di Indonesia.
Berikut adalah peristiwa ijazah yang tidak mampu diambil siswanya.
BACA JUGA:Ijazah 729 Pelajar SMA Ditahan, Tebusannya hingga Rp1,7 Miliar
BACA JUGA:SMAN 1 Bawang Batang Hadirkan Layanan Bikin Ijazah Satu Hari Langsung Jadi
DKI Jakarta
Pemandangan memilukan terjadi di wilayah Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada 6 Juni 2013. Seorang pria bernama Sugiyanto nekat berkeliling HI untuk menawarkan ginjalnya. Pasalnya, pria asal Kalideres, Jakarta Barat itu tidak mampu menebus ijazah SMP dan SMA kedua anaknya sebesar Rp17 juta.
Sugiyanto juga harus membayar biaya administrasi Rp20 ribu per hari, sejak tahun 2005. Jika ditotal, nominal yang harus ia bayarkan menyentuh angka Rp70 juta. Aksi Sugiyanto tersebut sampai di telinga Mohammad Nuh, Mendikbud kala itu. Ia dan jajarannya langsung menangani hal tersebut dan menekankan bahwa tidak boleh ada lagi kasus penahanan ijazah.
Kotawaringin Barat
Orang tua siswa di SMAN 2 Pangkalan Bun mengeluh dan mempertanyakan kebijakan sekolah. Banyak ijazah siswa yang ditahan pihak sekolah karena siswa tersebut belum membayar uang sumbangan atau iuran pembangunan gedung baru. Padahal, para siswa sudah dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan ijazah.
Kasus yang terjadi pada Juli 2016 itu cukup membuat kesal orangtua murid, sebab tidak ada kata sepakat dari pihak orang tua terhadap iuran tersebut. Adapun nominal yang harus dibayarkan adalah Rp466 ribu per siswa.