Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bikin Sedih! Ini 4 Peristiwa Ijazah Tidak Mampu Diambil

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Minggu, 17 Juli 2022 |10:14 WIB
Bikin Sedih! Ini 4 Peristiwa Ijazah Tidak Mampu Diambil
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Mendapatkan ijazah merupakan hak setiap siswa yang sudah menyelesaikan masa belajarnya di sekolah. Sayangnya, potret penahanan ijazah oleh pihak sekolah masih kerap terjadi di Indonesia.

Berikut adalah peristiwa ijazah yang tidak mampu diambil siswanya.

BACA JUGA:Ijazah 729 Pelajar SMA Ditahan, Tebusannya hingga Rp1,7 Miliar

BACA JUGA:SMAN 1 Bawang Batang Hadirkan Layanan Bikin Ijazah Satu Hari Langsung Jadi 

DKI Jakarta

Pemandangan memilukan terjadi di wilayah Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada 6 Juni 2013. Seorang pria bernama Sugiyanto nekat berkeliling HI untuk menawarkan ginjalnya. Pasalnya, pria asal Kalideres, Jakarta Barat itu tidak mampu menebus ijazah SMP dan SMA kedua anaknya sebesar Rp17 juta. 

Sugiyanto juga harus membayar biaya administrasi Rp20 ribu per hari, sejak tahun 2005. Jika ditotal, nominal yang harus ia bayarkan menyentuh angka Rp70 juta. Aksi Sugiyanto tersebut sampai di telinga Mohammad Nuh, Mendikbud kala itu. Ia dan jajarannya langsung menangani hal tersebut dan menekankan bahwa tidak boleh ada lagi kasus penahanan ijazah.

Kotawaringin Barat

Orang tua siswa di SMAN 2 Pangkalan Bun mengeluh dan mempertanyakan kebijakan sekolah. Banyak ijazah siswa yang ditahan pihak sekolah karena siswa tersebut belum membayar uang sumbangan atau iuran pembangunan gedung baru. Padahal, para siswa sudah dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan ijazah.

Kasus yang terjadi pada Juli 2016 itu cukup membuat kesal orangtua murid, sebab tidak ada kata sepakat dari pihak orang tua terhadap iuran tersebut. Adapun nominal yang harus dibayarkan adalah Rp466 ribu per siswa.

Merangin, Jambi

Kasus serupa juga terjadi di SMKN 9 Merangin pada September 2019. Pihak sekolah diduga melakukan penahanan ijazah kepada para siswa yang sudah menyelesaikan masa belajarnya. Melansir Okezone (21 Oktober 2018), seorang alumni bernama Selamet Widodo belum memperoleh ijazah, padahal dirinya sudah dua tahun tamat sekolah. Ia baru diperbolehkan mengambil ijazah setelah membayar tunggakan sebesar Rp2.200.000. Namun karena adanya keterbatasan ekonomi, maka ia terpaksa tidak mengambil ijazahnya. Usai lulus sekolah, Selamet harus bekerja serabutan demi membiayai hidupnya dan sang ibu.

Sementara itu, pihak sekolah menyatakan bahwa biaya yang belum dibayarkan oleh Selamet adalah uang magang sebesar Rp500 ribu dan berbagai tunggakan lain yang juga tak kunjung dilunasinya. Selain Selamet, ada 5 siswa lain yang ijazahnya masih ditahan dengan berbagai alasan.

Bengkulu

Rafli, seorang lulusan SMA swasta di Bengkulu, juga belum mendapatkan ijazah lantaran tidak memiliki biaya untuk menebusnya. Ijazah Rafli ditahan oleh pihak sekolah karena Rafli masih menunggak biaya SPP sebesar Rp3,7 juta. Karena tidak memiliki ijazah, Rafli yang lulus pada tahun 2020 lalu terhambat untuk melamar pekerjaan. Akhirnya, ia hanya bisa menjadi juru parkir demi mendapatkan penghasilan.

Keadaan ini membuat sang ibu, Darmiati, menyampaikan keluhan kepada pemkot setempat. Warga Kebun Geran, Kota Bengkulu ini berharap pemerintah memperhatikan kondisi para orang tua yang tidak mampu dan memberikan lapangan kerja untuk tamatan SMA.

*diolah dari berbagai sumber

Ajeng Wirachmi-Litbang MPI

(Widi Agustian)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement