Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Sukses Mahasiswa Rintis Usaha Kerupuk Bawang di Tengah Pandemi Covid-19

Sholahudin , Jurnalis-Selasa, 08 Februari 2022 |11:48 WIB
Kisah Sukses Mahasiswa Rintis Usaha Kerupuk Bawang di Tengah Pandemi Covid-19
Nia, mahasiswa sukses rintis usaha kerupuk bawang di tengah pandemi (Foto: istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Bermula dari modal Rp100 ribu, seorang mahasiswa warga desa Parengan, Kecamatan Jetis, Mojokerto sukses merintis usaha kerupuk bawang di tengah pandemi Covid-19 semua.

Pandemi mengakibatkan banyak usaha merugi tapi tidak dengan usaha kerupuk dari Afrenia Ericha Putri yang justru meningkat dengan omzet perbulan mencapai puluhan juta rupiah.

Nia -sapaan akrabnya- bersama tujuh karyawan yang rata-rata adalah tetangga langsung memulai membuat kerupuk bawang dengan bahan baku tepung terigu yang sudah diukur dengan takaran tertentu, lalu dicampur dengan bumbu yang sudah disiapkan.

Kemudian bahan dari kerupuk bawang langsung dimasukkan ke dalam mesin adonan dicampur dengan air dan diadon selama lima belas menit. Lalu adonan yang sudah siap dimasukkan ke dalam plastik ukuran tertentu dan kukus selama empat jam. Setelah matang, kerupuk terlebih dahulu didinginkan dan dipotong kecil-kecil.

Baca juga: Viral Resep Keripik Bawang di TikTok, Kriuk dan Gurih

"Setelah dijemur selama dua hari hingga kering kerupuk bawang dikemas dengan berbagai ukuran ada ukuran lima kilogram sesuai dengan pesanan konsumen," ujar Nia, Selasa (8/2/2022).

Kata dia, usaha kerupuk bawang ini merupakan usaha rintisan dari sang nenek dan telah dimulai setahun lalu dengan modal seratus ribu rupiah dengan produksi hanya dua kilogram.

Baca juga: Ingin Berprestasi? Yuk Pahami 5 Cara Membangun Mentalitas Mahasiswa Berprestasi

"Pada awalnya hanya dijual ke warung-warung tetangga saja hingga ada tetangga yang menggelar hajatan dengan memesan sepuluh kilogram kerupuk," ucap dia.

Rupanya kerupuk beras rasa bawang ini banyak di sukai pelanggan, hingga permintaan terus meningkat. Saat ini dalam sehari, Nia rata-rata bisa memproduksi dua setengah kwintal kerupuk bawang.

Nia mengaku tak memiliki kendala apapun dalam usaha keripiknya. Menurut dia, kendala terbesar dalam bisnis UMKM yang digeluti hanya biaya produksi yang terkadang naik tak menentu.

"Salah satunya adalah harga tepung beras yang terus meningkat. Pada awalnya perkarung 25 kilogram Rp179 ribu namun kini meningkat hingga Rp200 ribu lebih," kata dia.

Baca juga: Cerita Pengalaman Menarik 2 Mahasiswa Penerima Beasiswa LPDP di Washington DC

(Fakhrizal Fakhri )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement