JAKARTA - Perdebatan mana yang lebih penting tentang Intelligence Quotient (IQ) atau Emotional Quotient (EQ) terus bergulir hingga saat ini.
IQ merupakan ukuran kecerdasan intelektual seseorang, sementara EQ menunjukkan kecerdasan emosional seseorang.
Jurnalis sains sekaligus penulis, Daniel Goleman melalui bukunya Emotional Quotient menyarankan bahwa EQ mungkin lebih penting dari IQ. Buku tersebut terbit pada 1996 silam.
Dia mengatakan bahwa beberapa psikolog menganggap bahwa standar dalam pengukuran IQ terlalu sempit dan tidak menunjukkan kecerdasan manusia secara utuh.
Sebaliknya, kemampuan memahami dan mengekspresikan emosi dapat memegang peran yang setara, bahkan lebih penting dalam cara seseorang menjalani hidup.
Baca juga: 5 Manusia Super Jenius dengan IQ Tinggi Kalahkan Einstein
Dinukil dari About.com, IQ pernah dianggap sebagai penentu kesuksesan seseorang. Orang-orang dengan nilai IQ tinggi diasumsikan akan meraih berbagai pencapaian dalam hidup. Namun, para peneliti juga berdebat apakah IQ merupakan produk keturunan atau terbentuk karena pengaruh lingkungan.
Beberapa kritikus mulai menyadari bahwa kecerdasan bukan suatu jaminan untuk kesuksesan seseorang. Mereka juga menyadari bahwa IQ adalah konsep yang terlalu sempit untuk mencakup kemampuan dan kecerdasan manusia yang begitu luas.
Baca juga: Megawati Ingin Anak Indonesia Punya Kecerdasan Intelektual Tinggi
Hingga kini IQ memang masih dianggap sebagai salah satu elemen penting dalam mencapai kesuksesan, khususnya dalam hal akademis. Orang-orang yang memiliki IQ tinggi biasanya berprestasi baik di sekolah, sering kali menghasilkan lebih banyak uang dan cenderung lebih sehat.