Share

Kurikulum Prototipe dan Keunggulannya Menurut Kemendikbudrisktek

Neneng Zubaidah, MNC Portal · Jum'at 31 Desember 2021 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 31 624 2525522 kurikulum-prototipe-dan-keunggulannya-menurut-kemendikbudrisktek-fpPMLcq1dR.jpeg Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Kemendikbudristek melakukan beberapa terobosan dengan menghadirkan inovasi pembelajaran meski pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Antara lain dengan menyederhanakan Kurikulum 2013 menjadi kurikulum darurat.

Dampak positif penerapan kurikulum darurat menjadi dasar dibukanya opsi bagi kurikulum prototipe yang bersifat sukarela bagi satuan pendidikan. Untuk itu, sekolah diminta memahami secara mendalam konsep kurikulum ini terlebih dahulu.

Baca Juga:  Komisi X Dukung Mata Pelajaran Pancasila Masuk Kurikulum

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbudristek Zulfikri, dengan semakin meningkatnya layanan pembelajaran di sekolah maka anak akan tumbuh dan berkembang sesuai potensi dan hilangnya pembelajaran (learning loss) pun bisa diatasi.

"Kalau menggunakan kurikulum yang padat materi sementara PTM dilakukan secara terbatas, itu tidak mungkin (akan mencapai kualitas belajar yang diharapkan). Sehingga (kurikulumnya) perlu disederhanakan,” katanya melalui siaran pers, Kamis (30/12/2021).

Keuntungan dari kurikulum prototipe dijelaskan Zulfikri, yaitu guru tidak dikejar-kejar target materi pembelajaran yang padat, guru lebih fokus pada materi esensial yang berorientasi pada kebutuhan dan penguatan karakter siswa, metode pembelajarannya lebih bervariasi, situasi belajar lebih menyenangkan bagi guru dan siswa, serta guru diberi kesempatan untuk mengeksplor potensi siswa lewat berbagai inovasi pembelajaran.

"Kurikulum prototipe berbasis kompetensi statusnya semacam model. Model untuk pilihan di mana guru dan murid tidak merasa terlalu terbebani. Penyempurnaan dari kurikulum darurat, di kurikulum prototipe ini (strukturnya) lebih ditata selain disederhanakan juga,” ujar Zulfikri.

"Saat penerapan kurikulum darurat, terjadi mitigasi 73% dari learning loss. Dan ini dilanjutkan dengan kurikulum prototipe pemulihan pembelajaran yang menjadi dasar untuk pengembangan kurikulum prototipe. Selama dua tahun, yaitu tahun 2022 sampai dengan 2024 sekolah dapat menerapkan kurikulum prototipe ini. Untuk kemudian akan kita evaluasi kembali," tutur Zulfikri.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Supaya Tak Kaku, Perguruan Tinggi Perlu Merelaksasi Kurikulum

Dalam waktu dekat Kemendikbudristek segera menawarkan opsi kebijakan kurikulum untuk pemulihan pembelajaran. Opsi kurikulum yang ditawarkan adalah kurikulum prototipe yang mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar. 

Oleh karena itu, untuk melihat efektivitas penerapan kurikulum prototipe secara terbatas, satuan pendidikan yang telah bergabung dalam barisan Sekolah Penggerak akan dilibatkan. Plt. Kepala Kurikulum dan Pembelajaran ini menekankan bahwa penerapan kurikulum prototipe bukan suatu perintah, melainkan pilihan.

"Kami ingin, satuan pendidikan (sukarela) menerapkannya berdasarkan pemahaman yang baik sehingga merasa memiliki dengan kurikulum apapun yang dipilih. Bukannya mengatakan ini kurikulum pusat. Sekali lagi, tidak ada unsur paksaan karena kalau status kebijakan ini (sifatnya) wajib, maka siapapun akan menjalankannya meski sebenarnya dia tidak mau atau tidak paham," ujarnya.

Kurikulum prototipe, dijelaskan Zulfikri, berbasis proyek yang mengacu pada nilai-nilai Pelajar Pancasila. Misalnya, ketika siswa belajar kepedulian terhadap lingkungan dengan cara mengelompokkan sampah, maka di saat yang sama mereka juga belajar bekerja sama. Sangat mungkin satu proyek terkait dengan beberapa materi pembelajaran maupun lintas mata pelajaran. Proyeknya tidak menambah waktu belajar tapi mengambil 20-30 persen jam pelajaran.

“Orientasinya memberi ruang kepada anak untuk berkreasi dan mengembangkan potensi belajar mereka supaya anak merasa menemukan makna dari belajar itu dan bisa memecahkan masalahnya sendiri secara mandiri maupun berkelompok sehingga sisi akademik dan nonakademiknya berkembang secara utuh,” katanya.

Untuk mengoptimalisasikan penerapan kurikulum prototipe, Zulfikri menyarankan agar Guru Bimbingan Konseling (BK) turut membantu siswa menentukan pilihan mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya.

“Kita sedang rumuskan panduannya termasuk pengelolaan kelasnya. Apakah ada batasan minimum untuk kelas peminatan tertentu dan bagaimana mengarahkan anak dalam menentukan pilihan sesuai minat mereka. Dua tahun ini masa pengembangan dan evaluasi. Tahun 2024 nanti kita akan lihat kurikulumnya seperti apa secara nasional,” ujar Zulfikri.

Sebelum mengakhiri, Zulfikri mengingatkan, sebelum guru sebelum memulai pembelajaran, pastikan guru memahami materi yang akan dipelajari siswa, apa makna dari pembelajaran tersebut, metode apa yang menarik minat belajar siswa, serta identifikasi apakah ada perubahan positif pada diri siswa setelah belajar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini