Share

UI Edukasi Masyarakat untuk Mencegah Peningkatan Angka Stunting di NTT

Antara, · Kamis 04 November 2021 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 04 65 2496768 ui-edukasi-masyarakat-untuk-mencegah-peningkatan-angka-stunting-di-ntt-gvel0qjPs7.jpg UI edukasi masyrakat soal stunting/ Humas UI

JAKARTA - Universitas Indonesia (UI) memberikan edukasi mengenai kandungan gizi makanan untuk menekan angka stunting kepada masyarakat Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

(Baca juga: Viral! Mahasiswi Cantik Ini Curhat soal Tekanan Sosial Kuliah di UI)

"Selain untuk mencegah peningkatan angka stunting, Program tersebut juga untuk membentuk duta gizi dengan melibatkan masyarakat lokal dan menyejahterakan masyarakat setempat," kata Direktur Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Agung Waluyo di Depok, Jawa Barat, Kamis (4/11/2021).

Melalu program itu, peserta diharapkan dapat menjadi duta dan kader yang proaktif untuk mencegah peningkatan angka stunting. Kolaborasi ini merupakan wujud komitmen UI dan PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PII) untuk mendukung upaya pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mengurangi angka stunting.

Program ini merupakan pengabdian masyarakat UI dengan PT PII dan melibatkan dosen dari multidisplin ilmu, yaitu Program Studi Humas, Program Pendidikan Vokasi, dan Depatemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sasaran mengenai bahan pangan bergizi yang dapat dengan mudah diperoleh di NTT serta cara pengolahan yang baik agar kandungan gizi terjaga.

Tim Pengabdian Masyarakat UI menyampaikan cara memilih dan mengolah bahan masakan sebagai salah satu upaya mencegah stunting.

Ketua Tim Pengabdi UI, yang juga dosen Prodi Humas, Pijar Suciati mengatakan stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan fisik maupun otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, yang mengakibatkan anak stunting lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

"Penyebab stunting adalah rendahnya akses terhadap makanan bergizi, kurangnya asupan vitamin dan mineral, serta minim dalam konsumsi sumber protein hewani dalam jangka panjang," kata Pijar.

Karena itu, edukasi yang diberikan adalah workshop memasak makanan bergizi bagi orangtua dari anak yang mengalami stunting.

Pada workshop memasak juga disampaikan tentang nilai kandungan gizi serta tips cara masak yang baik sesuai standar perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti proses mencuci tangan dan bahan makanan sebelum dimasak. Tim tersebut memberikan materi edukasi berupa video untuk 6 resep masakan bergizi dan kalender edukatif, sehingga dapat terus diulang dan dipelajari setelah kegiatan selesai.

Lebih lanjut Pijar menjelaskan terdapat 6 menu padat gizi yang menjadi materi edukasi adalah tahu kukus daun kelor, bola-bola ikan tongkol/tuna, tumis teri daun kelor, bubur jakeca (jagung, kelor, cakalang), agar-agar kelapa muda gula aren yang disajikan dalam bentuk video dan juga kelendar edukasi.

"Pemilihan jenis pangan tersebut didasarkan pada FGD yang telah dilakukan pada Sepember lalu tentang pola konsumsi masyarakat," ujar Pijar.

Dalam materi edukasi tersebut terdapat resep, kandungan gizi, dan cara memasak yang baik. Di dalamnya tercantum pula resep yang mudah, tetapi padat gizi, antara lain mengandung protein, karbohidrat, maupun serat yang seimbang untuk menjadi menu sehari-hari.

"Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat mengoptimalkan sumber pangan yang ada, sehingga anak-anak dapat tumbuh sesuai tahapan perkembangan yang seharusnya," tutup Pijar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini