Tragedi Trisakti: Sejarah, Latar Belakang dan Kronologinya

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Jum'at 24 September 2021 07:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 22 65 2475054 tragedi-trisakti-sejarah-latar-belakang-dan-kronologinya-2KPqjFCQTa.jpg Tragedi Trisakti. (Foto: Ant)

JAKARTA - Tragedi Trisakti merupakan bagian dari sejarah Indonesia. Penting bagi generasi sekarang ini untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang lalu dan dijadikan sebagai pengetahuan dan pembelajaran terutama bagi penerus bangsa.

Tahukah kamu tentang sejarah tentang Tragedi Trisakti? Untuk mengingat kembali peristiwa tersebut, simak ulasannya berikut ini seperti dilansir dari laman resmi Trisakti!

1. Sejarah Tragedi Trisakti

Baca juga: 23 Tahun Tragedi Trisakti Berdarah, Gugurnya 4 Martir Reformasi

Tragedi Trisakti merupakan peristiwa penembakan yang terjadi pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap sejumlah mahasiswa saat melakukan demonstrasi menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya.

Kala itu pemerintahan masa Orde Baru sudah berlangsung selama 32 tahun, tepatnya dari tahun 1966 hingga 1998. Pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Soeharto memiliki berbagai kebijakan yang baik untuk kelangsungan Bangsa Indonesia. Namun, ada juga kebijakan yang dianggap tidak memihak pada rakyat.

Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta,Indonesia serta puluhan lainnya luka. Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998).

Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Peristiwa penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti ini juga digambarkan dengan detail dan akurat oleh seorang penulis sastra dan jurnalis, Anggie Dwi Widowati dalam karyanya berjudul Langit Merah Jakarta.

2. Latar Belakang Tragedi Trisakti

Baca juga: Peristiwa 12 Mei: Tragedi Trisakti hingga Gempa M8,0 di China Tewaskan Ribuan Orang

Tragedi Trisakti dilatar belakangi oleh beberapa faktor seperti krisis politik, krisis ekonomi, krisis kepercayaan dan krisis hukum.

Ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia sepanjang 1997-1999. Pemerintahan Presiden Soeharto juga dinilai otoriter dan tidak menerima kritikan. Selain itu, kekuasaan kehakiman berada dibawah kontrol dan campur tangan Presiden Soeharto.

Latar belakang krisis yang banyak terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru inilah yang menimbulkan krisis kepercayaan hingga membuat para mahasiswa dan masyakarat melakukan demonstrasi besar-besaran di bulan Mei 1998.

3. Kronologi Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti terjadi tanggal 12 Mei 1988. Kala itu mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke Gedung Nusantara, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti.

Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri dan militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Akhirnya, pada pukul 17.15, para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa.

Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di Universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan ke RS Sumber Waras.

Satuan pengamanan yang berada di lokasi pada saat itu adalah Brimob, Batalyon Kavaleri 9, Batalyon Infanteri 203, Artileri Pertahanan Udara Kostrad, Batalyon Infanteri 202, Pasukan Anti Huru Hara Kodam serta Pasukan Bermotor. Mereka dilengkapi dengan tameng, gas air mata, Steyr, dan SS-1.

Pada pukul 20.00 dipastikan empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam. Hasil sementara diprediksi peluru tersebut hasil pantulan dari tanah peluru tajam untuk tembakan peringatan.

Peristiwa tersebut kemudian menyulutkan semangat mahasiswa hingga adanya demonstrasi yang lebih besar pada 13-14 Mei 1998.

Kondisi bangsa yang semakin tidak terkendali akhirnya memaksa Soeharto untuk meletakkan jabatannya di depan Mahkamah Agung pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 10.00 pagi. Pada saat yang sama, Soeharto kemudian menunjuk wakilnya B.J. Habibie untuk menggantikan posisinya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini