Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mahasiswa UMM Ciptakan Sarung Tangan Pencegah Saraf Terhimpit, Begini Cara Kerjanya

Avirista Midaada , Jurnalis-Senin, 06 September 2021 |15:26 WIB
Mahasiswa UMM Ciptakan Sarung Tangan Pencegah Saraf Terhimpit, Begini Cara Kerjanya
Mahasiswa UMM ciptakan sarung tangan pencegah saraf terhimpit (Foto: Avirista Midaada)
A
A
A

MALANG - Empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan alat untuk menanggulangi penyakit terhimpitnya saraf di pergelangan tangan. Penyakit bernama Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan penyakit yang terjadi akibat terhimpitnya saraf yang ada di pergelangan tangan.

Sindrom ini umumnya ditemui pada orang-orang yang sering menggunakan tangan secara berulang dalam bekerja. Dari sanalah ketiga mahasiswa yakni Arif Kusuma, Aurizan Adli, Agam Siswanto Hardoyo, dan Waldiyansyah Rizkyfi Makky, mencoba menciptakan alat medical wristband untuk menanggulanginya.

Baca Juga:  5 Mahasiswa yang Sukses Berbisnis Meski Masih Kuliah, Bisa Jadi Inspirasi

Salah satu anggota tim, Arif Kusuma Firdaus, mengatakan, penyakit ini umumnya menyerang pegawai kantoran, pemetik daun teh, pelinting rokok, dan juga gamer professional. Hal ini disebabkan penggunaan tangan yang berulang dan dalam jangka waktu yang lama. Utamanya saat bekerja yang memakan waktu panjang.

“Bagi para pekerja, penyakit ini cukup mengganggu produktivitas. Jika telah terkena sindrom ini, pergelangan tangan akan terasa sakit jika dipakai bergerak agak berat atau secara terus-menerus. Hal ini akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari serta aktivitas di tempat kerja,” ungkap Arif saat dikonfirmasi MNC Portal Indonesia, pada Senin (6/9/2021).

Arif menjelaskan, medical wristband yang dirancang timnya ini berbentuk sarung tangan. Pada bagian tengah alat ditanamkan sensor untuk mendeteksi gerakan di pergelangan tangan. Khususnya gerakan ke arah ibu jari atau istilah medisnya radial deviasi. Informasi yang diperoleh dari sensor akan dikirim ke microcontroller Arduino untuk diproses. 

“Dari situ bisa ditentukan apakah jumlah gerakan tangan yang dilakukan akan beresiko menjadi CTS atau tidak. Jika beresiko, alat ini akan bergetar sebagai peringatan kepada si pemakai,” ujar mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) itu.

Baca Juga:  Mahasiswa Perlu Tahu, Ini 10 Keterampilan Kerja yang Dibutuhkan di Tahun 2025

Perbedaan disiplin ilmu antara tim dan topik yang dibahas menjadi kendala terbesar ketika proses pembuatan alat. Arif mengatakan, jika seluruh kelompoknya berasal dari bidang kedokteran sementara proses pembuatan alatnya lebih condong ke bidang elektronika. Oleh karena itu, tim ini bekerja sama dengan Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM untuk proses pembuatan alat.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement