Mahasiswa UNAIR Teliti Keampuhan Kulit Pisang Kepok untuk Atasi Luka

Neneng Zubaidah, Koran SI · Senin 23 Agustus 2021 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 23 65 2459838 mahasiswa-unair-teliti-keampuhan-kulit-pisang-kepok-untuk-atasi-luka-mva6Qiq08C.jpg Unair (foto: ist)

JAKARTA - Luka merupakan suatu keadaan dimana sebagian jaringan tubuh mengalami kerusakan yang dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Kerusakan ini dapat diakibatkan oleh perubahan suhu, gigitan hewan, trauma benda tajam atau tumpul, zat kimia, ledakan atau sengatan listrik.

Perawatan luka yang baik dibutuhkan untuk dapat mencegah terjadinya infeksi. Sayangnya, perawatan luka yang banyak digunakan oleh masyarakat awam (perawatan konvensional) tidak menjaga kondisi kelembaban luka sehingga akan menyebabkan luka menjadi kering dan ketika balutan akan diganti, hal ini akan menyebabkan nyeri dan berpotensi menimbulkan luka baru.

Selain itu cairan antiseptik yang digunakan tidak hanya membunuh berbagai kuman saja, tetapi juga membunuh sel leukosit dan sel fibroblas dimana hal ini akan menghambat pembentukan jaringan kulit baru.

Baca juga:  Persiapan Blended Learning, Ribuan Mahasiswa UNAIR Vaksinasi Massal

Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan suatu perawatan luka modern, atau yang lebih dikenal dengan wound dressing yang dapat menjaga suasana lembab pada luka yang berfungsi untuk menjaga luka dari dehidrasi dan mempercepat proses penyembuhan luka.

Pengembangan wound dressing terus dilakukan selama 20 tahun terakhir, seperti inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa UNAIR program studi S1 Teknik Biomedis Andi Bagus Rahmawan, Fahreza Rachmat, dan Sablina Damayanti dengan bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes, S.Bio yaitu perawatan luka modern berbahan kitosan-bubuk kulit pisang yang bersifat antibakteri.

Baca juga:  Mahasiswi Unair Ciptakan Kukis dari Cangkang Telur Pencegah Osteoporosis

Kitosan dipilih karena sifatnya yang biokompatibel, non toksik, dan bersifat antibakteri, namun dalam aplikasi wound dressing kitosan memiliki kelemahan yaitu sifat mekanik yang rendah.

Untuk memperbaikinya, dilakukan penambahan lignin yang berasal dari kulit pisang kepok. Sedangkan pisang kepok dipilih karena termasuk bahan yang ramah lingkungan dan produksinya melimpah di Indoensia. Selain itu kulit pisang kepok juga mengandung aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan jenis pisang lainnya.

Kulit pisang kepok mengandung sumber antioksidan alami seperti senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid yang memiliki fungsi sebagai antibakteri. Selain itu flavonoid juga berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antibiotik sedangkan tannin berfungsi sebagai astringen yang dapat menyebabkan penyempitan pori-pori kulit dan menghentkan eksudat serta pendarahan ringan.

Saponin merupakan salah satu senyawa yang mampu memacu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka sekaligus mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk penyembuh luka terbuka.

Penelitian dilakukan dengan empat konsentrasi berbeda dari bubuk kulit pisang yaitu 0 persen wt, 9 persen wt, 10 persen wt, dan 11 persen wt dengan variable kontrol berupa larutan kitosan 1 persen. Pembuatan bubuk kulit pisang kepok dilakukan dengan metode pengeringan dengan oven dan penggilingan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nagwa et al dan Syahputra et al diketahui bahwa campuran bubuk kulit pisang 10 persen wt memberikan hasil membran yang paling baik.

Karakteristik sampel membrane kitosan bubuk kulit pisang diketahui berdasarkan uji gugus fungsi, uji morfologi, uji swelling, uji sitotoksisitas, uji kuat tarik, dan uji antibakteri.

Sampel kitosan-bubuk kulit pisang (BKP) dengan variasi konsentrasi BKP memberikan hasil sebagai berikut: berdasarkan uji gugus fungsi FTIR, pada konsentrasi BKP 10 persen wt menunjukkan adanya interaksi antara bubuk kulit pisang dengan kitosan.

Hasil morfologi SEM pada sampel kitosan-BKP 10 persen wt menunjukkan kenampakan antarmuka yang bagus. Penambahan bubuk kulit pisang menurunkan tingkat pembengkakan (swelling) terhadap air pada pembalut luka.

Berdasarkan uji kuat tarik, nilai UTS semakin besar seiring dengan penambahan konsentrasi bubuk kulit pisang (BKP). Pada uji sitotoksisitas, didapati bahwa seluruh sampel tidak toksik dikarenakan keempat sampel memenuhi standar minimal viabilitas sel.

Hasil uji antibakteri menunjukkan hasil yang sinergis dengan aktivitas antibakteri tertinggi pada konsentrasi BKP 11 persen wt.

dr. Herry Wibowo, M.Kes, Sp.B, FinaCS, seorang Dokter Spesialis Bedah Umum turut mendukung penelitian ini.

“Penelitian ini memiliki potensi besar untuk penanganan luka yang terjadi pada aktivitas sehari-hari, mengingat prevalensinya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hasil studi in vitro dalam penelitian ini menunjukkan potensi untuk pengembangan aplikasi wound dressing yang aman dan juga ekonomis karena bahan alami yang digunakan,” ucapnya. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini