"Pengemasan digunakan untuk menjaga kualitas, memperpanjang umur simpan, memaksimalkan manfaat ekonomi, dan meminimalkan kerugian. Namun, kebanyakan kemasan saat ini terbuat dari plastik, yang mencemari lingkungan,” lanjutnya.
Menurut dia, alasan utama pengambilan topik ini, berasal dari data bahwa sekitar 50 persen sampah makanan di dunia berasal dari sayuran atau sekitar 315 juta ton per tahunnya.
Hanif beserta anggota tim ingin membuat suatu sistem pengemasan yang dapat diaplikasikan pada awal proses pascapanen agar kehilangan bahan pangan dapat ditekan.
Olehnya itu, diperlukan kemasan yang ramah lingkungan dan dapat digunakan untuk mengurangi kerusakan dan kerugian.
Cara terbaik yang bisa kita terapkan adalah menggunakan edible film saat memanen sayuran. Penggunaan edible film dapat membatasi pertukaran dari bagian dalam ke luar, membatasi transfer kelembaban, meningkatkan karakteristik fisik, dan mencegah pertumbuhan kuman pada sayuran.
Hanif berharap apa yang diraih saat ini bisa bermanfaat dan memotivasi serta menularkan semangat pada generasi selanjutnya untuk dapat meraih gelar pada kompetisi internasional lainnya.
DiICE’21 mengusung tema “Enhancing the Innovation of Education in the Industrial Revolution 4.0”.
Para peserta berkesempatan menampilkan inovasi, penemuan dan desain menarik yang diciptakan untuk mengkomersialkan inovasi dan ide mereka. Sehingga dapat mewujudkan dan mengembangkan kerja sama antar peserta dalam komersialisasi gagasan. (din)
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik