Sapi di Daerah Kekeringan Bisa Gemuk Berkat Inovasi Fermentasi Jerami

Bramantyo, Okezone · Selasa 03 Desember 2019 16:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 03 65 2137480 sapi-di-daerah-kekeringan-bisa-gemuk-berkat-inovasi-fermentasi-jerami-QY17eGJuji.jpg Peternakan Sapi (Foto: Okezone.com/Bram)

SOLO - Tim ahli Peternakan Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil melakukan penggemukan sapi yang tengah dikembangkan Kelompok Ternak Ngudi Berkah dan Maju Utomo, Gondangrejo, Karanganyar.

Gabungan para ahli Peternakan LPPM UNS terdiri dari Dr Ir Joko Riyanto MP, Ir lutopo MP dan drh Sunarto MSi ini, melakukan penggemukan sapi di daerah yang dikategorikan tandus dan sulit air.

Para gabungan tim ahli ini melakukan inovasi teknologi fermentasi jerami. Kemudian jerami padi diolah dengan menggunakan suplementasi konsentrat pemacu pertumbuhan penggemukan sapi potong.

Baca Juga: UNS Dicanangkan Jadi Kampus Sehat, Akan Diperluas Jadi 5 PT

Hasilnya, dalam beberapa minggu, sapi-sapi jenis si mental milik kelompok ternak Ngudi Berkah dan Maju Utomo, mengalami kenaikan berat badan. Sebelumnya, hanya 400 kg, naik menjadi 480 kg.

Ketua Tim Pengabdian LPPM UNS Joko Riyanto mengatakan sebenarnya sapi-sapi milik kelompok Peternakan ini memiliki jenis genetik yang cukup bagus.

Namun, selama ini para peternak sapi ini memiliki problem kesulitan melakukan penggemukan ada sapi peliharaan mereka. Para peternak sapi di sini masih memberikan pakan ternak seadanya berupa dedak dan kaktul.

sapi

Setelah melakukan penelitian, tim pengabdian LPPM UNS mencoba melakukan inovasi pakan ternak. Tim mencoba melakukan inovasi konsentrat pakan.

"Inovasi konsentrat pakan yang kami lakukan itu dengan menggunakan bahan-bahan yang bisa didapat dengan mudah oleh para peternak di daerah mereka saja. Kami menginovasi pakan seperti sejak, bolak, sawit, kulit kopi, tetes dan kalsium," terang Joko pada Okezone, Selasa (3/12/2019).

Agar hasilnya baik, tim bersama kelompok tani ini pun mencatat kondisi sapi, sebelum dan sesudah mendapatkan pakan yang telah di inovasi.

Menurut Joko, selain perubahan pada berat badan, dimana berat sapi yang sebelumnya hanya 0,4 kg per hari naik menjadi 0,8 kg per hari, juga berpengaruh terhadap harga jual sapi menjadi Rp 3,5 juta dalam tiga bulan.

"Keuntungan lain, mereka yang biasannya membutuhkan waktu 4 sampai 5 bulan, dengan konsentrat ini waktunya hanya 3 bulan. Artinya,dalam satu tahun, yang biasannya mereka mampu menjual 2 kali, bisa menjual 3 kali," terangnya.

Selain pemberian pakan yang terukur, inovasi pakan menggunakan konsentrat ini, ungkap Joko, konsumen pun sangat menyukai dagingnya.

UNS

"Yang jelas peternak sapi sudah tidak lagi mengandalkan rumput. Jadi, beternak sapi itu sekarang tidak perlu ada rumput," ujarnya.

Sementara itu Ketua Kelompok Ternak Ngudi Berkah Sutiyo mengatakan kekeringan yang melanda wilayah ini sempat membuat mereka takut dengan kondisi sapi miliknya.

Namun dengan adanya inovasi pakan yang dilakukan para ahli Peternakan dari UNS ini, telah terjadi peningkatan perkembangan produktivitas sapi. Terutama bobot sapi. Dan kondisi ini jelas ikut mempengaruhi pendapatan para peternak sapi.

“Jadi sekarang kami tak lagi khawatir dengan kekeringan ini. Dengan inovasi pakan ini, kami jadi paham apa yang harus kami lakukan untuk mengatasi pakan sapi. Meskipun belum lama kami mendapat pelatihan. Tapi hasilnya sudah kami rasakan," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini