Share

Ramadan di Inggris, Pantang Ketiduran Jelang Sahur

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Senin 04 Juli 2016 12:25 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 01 65 1430444 ramadan-di-inggris-pantang-ketiduran-jelang-sahur-eEM5PqEQ6H.jpg Tradisi membangunkan warga untuk makan sahur dengan memukul kentongan. (Foto: Antara)

JAKARTA - Kuliah jauh dari rumah dan keluarga memberikan tantangan tersendiri. Apalagi di bulan Ramadan seperti sekarang ini. Semua harus dikerjakan sendiri, mulai sahur hingga berbuka.

Bagi Tika Widyaningtyas, berpuasa di negeri orang tidaklah seseram yang dibayangkan. Saat ini Tika sedang menjalani studi S-2 di University of Southampton, Inggris.

Meski harus menjalani ibadah puasa selama sekira 18 jam, Tika mengaku tidak kesulitan. Cuaca yang tidak terlalu terik menjadi salah satu hal yang membuatnya lebih ringan menjalani Ramadan.

"Relatif lebih mudah karena selain cuaca, tidak ada ujian kesabaran yang bernama macet. Selain itu, momen puasa jadi semacam momen promosi sisi lain kehidupan seorang Muslim bagi teman-teman non Muslim," tutur Tika dalam surat elektronik kepada Okezone, belum lama ini.

Meski demikian, Tika mengaku, tetap ada tantangan saat menjadi minoritas muslim di bulan Ramadan. Jeda antara jam berbuka puasa dan sahur yang relatif pendek membuatnya harus tetap terjaga menanti waktu sahur.

"Enggak boleh ketiduran. Kalau ketiduran bisa kelewat jam buka dan sahur. Akhirnya puasanya lebih dari sehari. Solusinya, saya atur waktu tidur siang setidaknya 30 menit supaya bisa bangun malam untuk sahur," imbuhnya.

Di awal Ramadan, ujar Tika, lama puasa di Inggris sekira 18 jam tiga menit. Muslim di Inggris mulai berpuasa pada subuh pukul 3:07, dan berbuka di waktu maghrib pada pukul 9.11 malam. Semakin mendekati lebaran, periode puasa pun semakin lama hingga 18 jam 35 menit yaitu mulai pukul 2.55 sampai 9.26 malam.

Tantangan lainnya adalah menjalani ibadah salat tarawih. Sarjana Statistika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu menyebut, tarawih di Inggris digelar larut malam yaitu pukul 11 malam hingga satu dini hari. Selain itu, tempatnya pun kerap berpindah, terkadang di kampus, kali lain di gedung komunitas. Akibatnya, sebelum berangkat tarawih Tika pun harus mengecek facebook komunitas Muslim untuk tahu waktu dan lokasi tarawih.

"Tapi saya jadi belajar, begini toh rasanya jadi minoritas yang enggak punya tempat ibadah," imbuhnya.

Merantau sejak 2007, ini adalah kali pertama Tika berpuasa di negeri orang. Dara asli Brebes itu pun terbiasa mandiri selama Ramadan, begitu pula di Inggris.

Sebagai satu-satunya muslim di rumah, bisa dipastikan Tika lebih sering berbuka dan sahur sendirian. Meski begitu, Tika bercerita, teman serumahnya, Christian, hampir selalu menemaninya berbuka puasa. Begitu juga menuju waktu sahur, teman serumahnya yang lain Kak Njoo ikut bangun tengah malam dan menemaninya makan sahur.

"Kalau mereka enggak di rumah, saya main ke rumah teman Indonesia lain โ€˜nebengโ€™ buka puasa. Sering juga teman-teman Indonesia berkumpul buka puasa bersama. Kalau sudah begini, pasti seru dan berlanjut begadang sampai sahur," tuturnya.

Follow Berita Okezone di Google News

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini