Sekretaris PIAT UGM, Dr Henry Yuliando menyebut, sudah ada tiga kandang untuk menampung puluhan rusa tersebut. Di antara spesies rusa yang dimiliki UGM adalah rusa totol dan beberapa jenis rusa asli dari Indonesia, seperti rusa Bawean dan rusa Muncak keemasan. Untuk meningkatkan populasi rusa, PIAT UGM menggunakan teknologi inseminasi buatan agar rusa bisa diternakkan dan upaya konservasi dapat terus dilakukan.
"Apabila populasi mampu ditingkatkan, kami ingin KP4 bisa menjadi sentral pengembangan rusa di DIY, bahkan di Indonesia," kata Henry, Jumat (23/10/2015).
Beberapa jenis rusa asli Indonesia dibudidayakan dengan alasan konservasi agar spesies rusa tidak punah. Sementara itu, rusa totol yang merupakan rusa dari India akan dikembangbiakan agar bisa dijadikan sumber protein hewani selain sapi dan kambing.
"Salah satu keunggulan daging rusa itu selain rendah kolesterol, dagingnya lebih enak, proteinnya lebih tinggi," imbuh Henry.
Peneliti rusa dari Universitas Mataram, Prof. Adji Santoso, mengatakan, salah satu tantangan budidaya rusa asli di Indonesia adalah adanya aturan hukum bahwa rusa asli Indonesia itu dilindungi. Sehingga, salah satu pilihan yang bisa dilakukan oleh masyarakat yang ingin beternak rusa adalah budidaya ternak rusa totol (Axis axis) yang merupkan rusa asal India.
"Rusa jenis ini tidak dilindungi oleh negara sehingga bisa dibudidayakan," katanya.
Rusa asli Indonesia, kata dia, seharusnya dikembangbiakkan dengan melakukan kawin silang antarberbagai jenis rusa asli Indonesia lainnya. Selama ini yang dilakukan pemerintah hanya mempertahankan rusa yang sudah ada sehingga beberapa rusa melakukan inbreeding. Adji khawatir populasi rusa khas Indonesia akan punah.
"Justru yang dilindungi sudah akan habis. Di Sumbawa itu, setengah jam saja, pemburu bisa bawa sepuluh rusa dengan cara menembak dan bawa anjing," jelasnya.
Salah satu yang dilakukan Adji selama puluhan tahun adalah mengumpulkan berbagai jenis sperma beku dari berbagai jenis rusa asli Indonesia. Apa yang dilakukannya ini bertujuan mempertahankan populasi rusa asli Indonesia agar tidak lekas punah.
"Saya bawa sperma beku dari Mataram ke Kalimantan, supaya ada pertukaran genetik. Selama ini rusa dibiarkan kawin satu genetik," katanya.
Adji menyambut baik ide dari UGM untuk membuka tempat sebagai pusat budidaya ternak rusa. Dia pun akan membantu mengirim sperma beku dari berbagai jenis rusa agar nanti bisa menghasilkan jenis rusa asli dari Indonesia yang lebih unggul dan tahan terhadap penyakit.
"Pelihara rusa itu mudah, asal punya kandang, makannya dedaunan kering, yang penting tidak membuat rusa stres dengan lingkungannya," tutur Adji.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik