Mulanya Ricky hanya membantu pamannya Marzuki alias Si Pon berjualan ikan di Pasar Seunagan. Beberapa pekan kemudian, pamannya berhenti berjualan. Tapi, Ricky tak mau menganggur.
Dia memanfaatkan kenalan pamannya yakni Bang Beunu, seorang tauke bangku alias juragan ikan di Pasar Seunagan. Dia diupah Rp30 ribu hingga 60 ribu untuk menjual ikan milik Bang Benu.
Pertama kali Ricky mangkal di Pasar Seunagan. Seiring waktu, sang tauke bangku memberikannya becak bermotor. Ricky diminta berjualan ikan secara keliling kampung agar lakunya lebih banyak. Sebagai buruh upahan, ia manut saja.
Sepulang sekolah, Ricky berganti pakaian dan bergegas ke pasar untuk mengambil ikan dan menaikkannya ke becak motor. Kemudian, ia masuk ke kampung-kampung dalam tiga kecamatan yakni Seunagan, Sukamakmur, dan Beutong untuk menjajakan ikan.
Aktivitas ini dilakoninya setiap hari dari siang hingga sore, bahkan malam. Tak selalu dagangannya laku. Terkadang Ricky harus menahan sedih karena ikan yang dijualnya banyak yang tinggal. Tentu saja berpengaruh pada upah yang diterimanya. Tapi, ia pantang berputus asa.
Pahit getir menjadi pedagang ikan keliling dirasakan betul remaja ini. Ricky mengungkapkan beberapa kali becaknya kehabisan bensin dan bocor ban, sehingga terpaksa harus didorong berkilometer bersama dagangannya.