Share

Dosen Perempuan Lebih Bossy

Giovanni, · Jum'at 13 Februari 2015 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2015 02 13 65 1105323 dosen-perempuan-lebih-bossy-9wq99bz2Ti.jpg Mahasiswa memiliki penilaian tersendiri tentang dosen laki-laki dan perempuan. (Foto: shutterstock)

JAKARTA – Sebagian besar mahasiswa di Amerika Serikat menganggap dosen perempuan mereka lebih bossy dan menjengkelkan. Mereka juga menilai para dosen perempuan melalui penampilan fisik. Sementara itu, dosen laki-laki dianggap lebih brilian, keren dan berpengetahuan.

Fakta ini terungkap dalam riset daftar terbaru yang dibuat seorang pengajar sejarah di Northeastern University, Benjamin Schmidt. Daftar yang menggunakan data 14 juta ulasan mahasiswa di situs Rate My Profesor itu menunjukkan bias yang nyata dalam menilai dosen perempuan dan laki-laki.

"Daftar ini memperlihatkan bahwa orang cenderung berpikir laki-laki lebih memiliki profesionalitas ketimbang perempuan," kata Schmidt, seperti dilansir The New York Times, Jumat (13/2/2015).

Bias juga terlihat ketika dosen laki-laki lebih dipuji pada suatu hal, sementara dosen perempuan mendapatkan kritikan atas hal yang sama. Di sisi lain, dosen perempuan lebih sering dinilai dari penampilan sedangkan dosen laki-laki dinilai dari kemampuan dan kepintaran mereka. Kata jenius, ujar Schmidt, lebih sering disematkan kepada dosen laki-laki ketimbang dosen perempuan.

"Ketika menggunakan ulasan dan evaluasi ini untuk menilai orang, kita perlu ingat bahwa bias tersebut sudah sangat membudaya," tutur Schmidt.

Eksekutif Facebook, Sheryl Sandberg, mengaku telah mendengar stereotip ini sebelumnya. Menurutnya, perempuan lebih sering disebut memerintah ketika perilaku yang sama pada pria disebut sebagai ketegasan.

"Seorang pria yang tidak membantu diangap 'sibuk', sementara seorang wanita dianggap 'egois'," kata Sheryl.

Namun, Schmidt mencatat bahwa ulasan tersebut dibuat anonim. Sehingga dia tidak dapat memastikan jenis kelamin para responden

"Bisa jadi lebih banyak mahasiswi menggambarkan dosen perempuan sebagai panutan daripada yang dilakukan pria ketika menggambarkan laki-laki atau perempuan," pungkas Schmidt.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini