Masalah lainnya adalah awan abu vulkanik tidak selalu mudah dikenali oleh pilot. Pada kondisi tertentu, abu dapat terlihat seperti awan biasa atau bahkan hampir tidak terlihat, terutama pada malam hari.
Karena itu, pilot tidak bisa hanya mengandalkan penglihatan untuk menentukan apakah suatu jalur penerbangan aman. Informasi mengenai aktivitas gunung api, arah angin, dan pergerakan abu menjadi bagian penting dalam menentukan rute penerbangan.
Meski ada banyak dampak, bukan berarti setiap erupsi otomatis membuat seluruh penerbangan di wilayah tersebut berhenti. Yang menjadi perhatian utama adalah sebaran abu vulkanik dan jalur penerbangan.
Jika abu tidak berada di jalur penerbangan atau konsentrasinya tidak membahayakan, penerbangan masih dapat berlangsung. Namun, penerbangan harus mengikuti prosedur dan informasi keselamatan yang berlaku.
Sebaliknya, ketika awan abu berada di jalur pesawat, rute dapat diubah untuk menghindari area tersebut. Karena abu dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber erupsi, pemantauan tidak hanya dilakukan di sekitar gunung.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang telah terjadi sejak 4 September 2026 ini juga perlu mendapat perhatian dari sektor penerbangan ketika menghasilkan abu vulkanik yang menyebar ke atmosfer. Abu yang terbawa angin dapat masuk ke jalur penerbangan dan mengganggu operasional bandara maupun penerbangan di wilayah terdampak.
Dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk menunda, mengalihkan, atau membatalkan penerbangan dilakukan berdasarkan informasi mengenai lokasi dan pergerakan abu serta pertimbangan keselamatan penerbangan. Bagi penumpang, perubahan jadwal mungkin terasa merepotkan. Namun, langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko yang jauh lebih besar.
(Djanti Virantika)