JAKARTA — Indonesia dan Arab Saudi memperkuat kolaborasi di bidang riset, sains, teknologi, dan pengembangan talenta unggul. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas kemitraan antar perguruan tinggi, mendorong penelitian bersama, meningkatkan mobilitas akademik, serta membuka peluang pengembangan sumber daya manusia (SDM) kedua negara.
Hingga 2026, tercatat 95 dokumen kerja sama aktif antara perguruan tinggi Indonesia dan Arab Saudi, yang terdiri atas 45 Memorandum of Understanding (MoU), 33 Memorandum of Agreement (MoA), dan 17 Implementation Arrangement (IA).
Kerja sama tersebut mencakup penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kurikulum dan program bersama, pusat penelitian dan keilmuan, pertukaran dosen, serta visiting professor. Besarnya jejaring tersebut menjadi modal untuk memperkuat kerja sama yang lebih substantif dan implementatif, terutama pada bidang yang menjadi prioritas bersama.
Penguatan kerja sama dibahas Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan saat menerima Menteri Pendidikan Kerajaan Arab Saudi Yousef bin Abdullah Al-Benyan dan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah H. Amodi beserta delegasi di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Rabu (2/9).
Pertemuan tersebut membahas penguatan kolaborasi antarperguruan tinggi, STEM, riset bersama, pendidikan digital, program mobilitas, dan pengembangan kapasitas.
“Ke depan, kami akan terus mendorong lebih banyak kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dengan pemangku kepentingan dari Arab Saudi, termasuk di bidang STEM dan prioritas nasional kedua negara,” ujar Wamen Fauzan.
Salah satu fokus kerja sama adalah mendorong riset yang semakin terhubung dengan kebutuhan pasar dan dunia usaha. Menteri Pendidikan Arab Saudi Yousef bin Abdullah Al-Benyan menyampaikan pentingnya memperkuat keterkaitan tersebut dalam pengembangan penelitian.
Sebagai langkah penguatan kolaborasi riset, Arab Saudi menyampaikan rencana melakukan asesmen untuk mengidentifikasi sekitar tiga hingga lima perguruan tinggi Indonesia yang berpotensi menjadi mitra dalam program penelitian bersama.
Upaya tersebut melanjutkan proses matchmaking perguruan tinggi kedua negara. Kemdiktisaintek sebelumnya telah mengusulkan 11 perguruan tinggi Indonesia untuk dihubungkan dengan perguruan tinggi unggulan Arab Saudi.
Pada 2026, kedua negara juga mendorong matchmaking and linkage antara 11 perguruan tinggi Indonesia dan 15 perguruan tinggi Arab Saudi, termasuk pengembangan riset bersama antara profesor dari kedua negara.
Kerja sama tersebut telah berjalan melalui sejumlah kemitraan, antara lain Universitas Negeri Surabaya–Saudi Electronic University, Universitas Muhammadiyah Makassar–Al Baha University, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta–King Saud University, Universitas Negeri Yogyakarta–Prince Sattam bin Abdulaziz University, serta Universitas Islam Bandung–King Abdulaziz University.
Pada aspek pengembangan talenta, Arab Saudi telah berkomitmen menyediakan 1.000 kuota beasiswa bagi Indonesia untuk tahun akademik 2026–2027.
Kemdiktisaintek mendorong pemanfaatan peluang tersebut secara strategis, khususnya untuk mendukung kebutuhan studi doktoral dosen Indonesia pada sektor-sektor prioritas.
Wamen Fauzan mengatakan, penguatan kerja sama Indonesia–Arab Saudi perlu terus dilakukan dengan memperluas cakupan kegiatan dan bidang kolaborasi, sekaligus memperhatikan kepentingan nasional kedua negara.
“Untuk tahun-tahun mendatang, kami berharap kita dapat terus melanjutkan hubungan dan kerja sama yang telah berlangsung lama, sekaligus memperluas cakupan kegiatan dan bidang kolaborasi dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional Indonesia dan Arab Saudi,” ujarnya.
Penguatan kerja sama tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yang mendorong pendidikan tinggi, sains, dan teknologi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan.
Dengan memperkuat kolaborasi berdasarkan potensi dan kebutuhan bersama, kemitraan Indonesia–Arab Saudi diharapkan tidak hanya semakin mempererat hubungan bilateral, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan SDM, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)