JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai memengaruhi berbagai sektor, mulai dari teknologi, kesehatan, keuangan, pendidikan, hingga industri kreatif. Perubahan tersebut turut berdampak pada kebutuhan tenaga kerja dan membuat kompetensi di bidang AI semakin banyak diperhitungkan dalam dunia pendidikan tinggi.
Kondisi ini membuat pilihan jurusan kuliah ikut mengalami perubahan. Jika sebelumnya bidang seperti kedokteran, hukum, ekonomi, atau teknik menjadi pilihan yang umum dipertimbangkan calon mahasiswa, kini bidang yang berkaitan dengan AI, machine learning, dan ilmu data mulai mendapat perhatian.
Bagi calon mahasiswa, memilih jurusan AI bukan semata-mata soal mempelajari teknologi terbaru. Bidang tersebut membutuhkan pemahaman terhadap matematika, statistik, pemrograman, pengolahan data, serta kemampuan menganalisis dan menyelesaikan masalah.
Anggapan bahwa AI hanya berkaitan dengan pemrograman mulai berubah seiring semakin luasnya pemanfaatan teknologi tersebut. AI kini digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan, seperti menganalisis data, mengolah dokumen, memberikan rekomendasi, mendukung layanan pelanggan, hingga membantu proses produksi konten.
Karena itu, kebutuhan terhadap talenta AI juga tidak selalu berada pada posisi yang sepenuhnya teknis. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu menggabungkan kemampuan AI dengan pengetahuan di bidang tertentu.
Beberapa profesi yang berkembang seiring pemanfaatan AI antara lain AI Engineer, Machine Learning Engineer, Data Scientist, AI Product Specialist, AI Consultant, serta berbagai pekerjaan yang menggabungkan teknologi AI dengan bidang bisnis dan industri.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mempelajari AI dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin memiliki kompetensi lintas bidang. Namun, kemampuan teknis tetap menjadi salah satu fondasi penting, terutama bagi mereka yang ingin berkarier sebagai pengembang sistem AI.