JAKARTA - Nama Roy Suryo dan Dokter Tifa kembali menjadi sorotan publik setelah keduanya dibebaskan dari penahanan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (22/6/2026). Kuasa hukum mereka, Refly Harun, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan penangguhan penahanan sejak pagi hari dan permohonan tersebut dikabulkan oleh pihak kejaksaan.
Di tengah perhatian publik terhadap kasus yang menjerat keduanya, latar belakang pendidikan Roy Suryo dan Dokter Tifa juga menjadi perbincangan. Keduanya diketahui memiliki rekam jejak akademik yang cukup panjang di bidang masing-masing.
Roy Suryo memiliki latar belakang pendidikan di bidang ilmu komunikasi. Ia menyelesaikan studi Sarjana (S1) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada dan lulus pada 1991.
Selain pendidikan sarjana, Roy juga diketahui melanjutkan studi hingga jenjang doktoral. Ia pernah menunjukkan dokumen pendidikan mulai dari S1 hingga S3 yang diperoleh dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Jakarta.
Dalam dunia akademik, Roy pernah berkiprah sebagai dosen di Jurusan Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada periode 1994–2004. Ia juga pernah menjadi dosen tamu pada Program Diploma Komunikasi Universitas Gadjah Mada.
Dokter Tifa memiliki latar belakang pendidikan di bidang kedokteran dan epidemiologi. Ia menempuh pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada. Selain itu, ia juga meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dari institusi yang sama.
Untuk pendidikan lanjutan, Dokter Tifa melanjutkan studi doktoral di bidang Epidemiologi Molekuler pada Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
Dalam karier profesionalnya, Tifa dikenal sebagai praktisi medis sekaligus pengamat kesehatan yang kerap memberikan pandangan terkait isu kesehatan masyarakat, epidemiologi, hingga berbagai isu sosial yang berkembang di Indonesia.
Jika dibandingkan, Roy Suryo menempuh jalur akademik di bidang komunikasi dan teknologi informasi, sementara Dokter Tifa memiliki fokus pendidikan pada bidang kedokteran dan epidemiologi. Keduanya sama-sama memiliki pengalaman pendidikan hingga jenjang tinggi dan dikenal aktif menyampaikan pandangan di ruang publik sesuai bidang keahlian masing-masing.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)