Menurutnya, tidak heran di banyak negara maju, sebut saja Amerika Serikat, Inggris, Jepang misalnya, anak-anak mereka semenjak usia 3 tahun sudah diperkenalkan dengan konsep keuangan. Di sana, kata dia, anak-anak mulai diajarkan soal dari mana sumber sumber uang, bagaimana cara mengelola uang.
"Bahwa di AS anak usia 6 tahun sudah didorong belajar “menghasilkan uang” setelah pulang sekolah untuk mendapatkan uang tambahan," tuturnya.
Devie menambahkan pengetahuan tentang keuangan bukan hanya sekedar menabung atau yang sekarang lagi “trend” investasi misalnya. Tetapi lebih luas dari itu, ialah bagaimana anak anak kita tumbuh dengan nilai nilai kerja keras, mampu mengelola "syahwat keinginan” yang tanpa batas. Devie berharap semoga hal ini dapat menjadi salah satu jalan keluar jangka panjang untuk mencegah terjadinya kasus kasus kekerasan hingga kematian terus bergulir.
"Lalu memahami skala prioritas terhadap kebutuhan hidup hingga mampu berpikir logis dan terbiasa melakukan riset tentang investasi atau berhutang seperti apa yang tidak akan mengganggu kualitas hidupnya," katanya. "Kita perlu apresiasi, tim Kemendikbudristek yang sedang menggodok kurikulum tentang literasi keuangan dari jenjang sekolah dasar," ucapnya.
(Marieska Harya Virdhani)