Logika Fuzzy memiliki beberapa kelebihan dibanding logika lain. Penggunaan konsep matematis yang mendasari penalaran Logika ini dinilai sangat sederhana, sehingga mudah dimengerti. Selain itu, data-data yang belum tepat tidak akan langsung dinilai, namun dianalisa lebih mendalam dengan batas toleransi tertentu, sehingga dinilai lebih fleksibel.
Baca juga: Mahasiswa Ini Rancang Bendungan Tahan Gempa, Begini Penampakannya
Contohnya, jarak diekspresikan dengan dekat, agak dekat, jauh, dan sangat jauh. “Pada dasarnya semua itu muncul secara biologis dari otak manusia dalam mendeskripsikan sesuatu,” terang Prof Laszlo T Koczy DSc, seperti yang dilansir dari its.ac.id saat menjadi pembicara di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Selasa (19/11/2019).
Koczy juga menyebutkan, seorang ilmuwan Amerika Serikat berkebangsaan Iran, Lotfi A Zadeh pada 1965 melalui teori himpunan fuzzy miliknya mendapat nilai yang bisa dianalisa diantara nilai 0 dan 1. Dikarenakan adanya nilai buram ini, logika ini lebih banyak diaplikasikan di Jepang daripada Amerika Serikat. “Sebab budaya barat cenderung memandang persoalan hanya sebagai ya atau tidak, sukses atau gagal. Berbeda dengan kultur timur yang masih ada unsur abu-abu,” sambungnya.