Sementara itu, dia melansir bahwa dalam bidang manajemen kemaritiman, juga dibutuhkan SDM yang memiliki kualifikasi di jenjang diploma. “Hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden Indonesia untuk mengembangkan sektor vokasi,” terangnya, demikian dikutip dari laman ITS, Senin (26/8/2019).
Selain itu, alumnus University of Newcastle ini memaparkan bahwa pihak Belanda memiliki pengalaman yang bagus dalam pengembangan pendidikan vokasi serta kurikulum. Hal ini tercermin dengan digandengnya STC International dan CINOP sebagai institusi yang berpengalaman dalam pelatihan maritim dan logistik serta kurikulum di Belanda. “Belanda memiliki kurikulum, namun tidak semuanya dapat diadopsi oleh Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya kolaborasi,” tandasnya.
Untuk tahap selanjutnya, Tri mengungkapkan, pihak Belanda dan ITS akan mendampingi pembuatan kurikulum vokasi sampai dengan akreditasi. Oleh sebab itu, Tri membeberkan bahwa pihak Belanda akan senantiasa mengirimkan staf guna mengawal proses tersebut nantinya.
(Rani Hardjanti)