Deretan Buku Kontroversial Terlarang di Abad 21

Koran SINDO, Jurnalis
Senin 15 Oktober 2018 13:22 WIB
Perpustakaan (Foto: Ist)
Share :

Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, Harry A. Poeze

Buku terbitan Pustaka Utama Grafiti ini dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989. Buku karya Poeze ini memuat riwayat hidup, perjuangan politik, dan perkembangan pemikiran Tan Malaka semenjak ia lahir ke dunia sampai menjelang akhir Agustus 1945.

Wawancara Imajiner dengan Bung Karno - Christianto Wibisono

Dalam buku ini, Christianto Wibisono menampilkan Soekarno sebagai sosok imajiner yang bercerita dan menyampaikan pendapatnya atas kondisi pemerintahan Indonesia di awal pemerintahan Soeharto dan pada awal tahun '70-an. Penulisan buku dengan format wawancara ini mengingatkan para pemimpin agar bisa belajar dari sejarah terdahulu. Kemudian buku yang terbit tahun '77 ini pun setahun kemudian dilarang peredarannya.

Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, Peter Dale Scott

Buku yang dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990 ini mengungkapkan campur tangan Amerika Serikat dalam pengulingan Presiden Soekarno dengan cara kotor dan berdarah tahun 1965-1967. Dale Scott tidak hanya memberi kesan bahwa provokasi dan kekerasan pada tahun 1965 berasal dari militer Indonesia yang telah bekerja sama dengan Amerika Serikat bersama intelijen Inggris, Jerman dan Jepang. Namun dari keseluruhan ulasannya, Dale Scott menemukan peristiwa ini sebagai konspirasi yang rumit dan terselubung.

Indonesia di Bawah Sepatu Lars, Sukamdani Indro Tjahjono

Buku ini merupakan pledoi Sukmadji Indro Tjahjono, caretaker Presidium DM-ITB yang berisi pembelaan di muka Pengadilan Mahasiswa Agustus-September 1979. Buku ini dilarang beredar pada zaman orde Baru Soeharto oleh Kejaksaan Agung pada 1980.

Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman, A. H. Nasution

Buku terbitan Karya Unipress ini dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1984. Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman dianggap sebagai biografi khas pejabat—tokoh yang diulas diagung-agungkan tanpa ada cacat sama sekali. Buku yang berisi tulisan beberapa penulis ini memakai nama besar A.H. Nasution untuk dipampangkan di depan agar bisa membuat kumpulan tulisan ini aman. Tapi nyatanya buku ini juga dibredel saat itu.

Di Bawah Lentera Merah, Soe Hok Gie

Buku karangan Soe Hok Gie ini menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia, yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan lewat upaya berorganisasi. Dalam buku ini Soe Hok Gie juga mengajak pembacanya menelusuri kembali jejak-jejak pergerakan Indonesia pada era 1917-1920-an sekaligus mencoba menyalakan lentera merah perjuangan pergerakan Indonesia dan mengajak pembaca mencermati bagaimana para tokoh pergerakan tradisionalis Indonesia menyikapi perubahan pada abad ke-20. Buku Soe Hok Gie yang sempat dilarang Kejaksaan Agung pada 1991 ini sampai saat ini masih beredar dan menjadi bacaan para mahasiswa.

(Koran Sindo/Bobby Firmansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya