JAKARTA - Bertugas di daerah perkotaan sudah menjadi hal biasa, namun bagaimana jika mendapat tugas mengajar di wilayah yang jauh dari perkotaan dan sulit diakses oleh transportasi. Hal itulah yang dihadapi oleh Fathoni Hari Bintara, guru SM3T Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang ditempatkan di distrik Okhika, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
Pegunungan Bintang adalalah salah satu kabupaten di Papua yang termasuk dalam daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Kabupaten ini berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini. Banyak gunung atau bukit yang tersebar layaknya bintang bertaburan di langit sehingga kabupaten ini memiliki nama Pegunungan Bintang. Tidak ada jalan beraspal maupun alat transportasi darat yang menjangkau seluruh wilayah selain di ibu kota kabupaten ini. Satu-satunya alat transportasi adalah pesawat perintis, apabila bepergian antar distrik maupun ke berbagai wilayah masyarakat cukup berjalan kaki.
Tidak semua distrik di kabupaten ini dijangkau oleh sinyal telefon seluler. Banyak pula distrik yang belum dialiri listrik sepenuhnya.
“Kehidupan sederhana dan jauh dari hiruk pikuk kota menjadi pengalaman hidup yang sangat berharga,” kata Fathoni seperti disitat dari laman UNY, Selasa (3/1/2017).
Bahkan Fathoni bisa merasakan udara segar, mendengar suara ayam berkokok, serta pemandangan indah setiap pagi. Bahkan masyarakat yang ramah senantiasa membantu dan memberi sesuatu yang mereka miliki.