“Jadilah pengusaha yang produktif, karena ikut menciptakan lapangan pekerjaan. Kalau ikut menciptakan lapangan kerja di NTT, maka akan memberikan kontribusi pajak di NTT. Di situlah NTT akan terbangun dengan cepat, dan Indonesia akan tumbuh dengan cepat karena pilar-pilar ekonominya banyak,” terangnya.
Alumnus Ottawa University, Kanada itu menambahkan, jumlah pengusaha yang mencukupi menjadi salah satu syarat kemajuan suatu negara. Setidaknya, harus ada dua persen pengusaha produktif dari total jumlah penduduk. Saat ini, Indonesia baru memiliki satu juta pengusaha produktif dari seharusnya lima juta orang.
“Penopang ekonomi kita sedikit, jumlah pengusaha di Indonesia sedikit. Di Indonesia banyak pengangguran, makanya generasi mudanya sulit mencari pekerjaan. Apalagi kondisi ekonomi sekarang ini, bukan hanya sulit, tetapi yang sudah bekerja pun banyak yang di-PHK,” katanya.
Sementara itu, Ketua STAKN Kupang, Harun Y. Natonis mengungkapkan, kedatangan Hary Tanoe sangat menginspirasi mahasiswa untuk ikut membangun ekonomi negara. Dia berharap, mahasiswanya bisa sesukses Hary Tanoe. “Pak Hary menginspirasi kami untuk menjadi pelaku ekonomi, untuk menggenjot ekonomi negara,” tambahnya. (afr)
(Susi Fatimah)