JAKARTA - Menghabiskan waktu luang dengan nonton film di bioskop, belanja di mal, atau sekedar kongkow di kafe bersama teman sering dilakukan oleh generasi muda saat ini. Sebaliknya, tempat-tempat yang mengandung unsur edukatif, seperti museum jarang diminati oleh para pemuda lantaran dianggap membosankan bahkan menyeramkan.
Kepala Seksi Penyajian dan Layanan Edukasi Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), Sujiman berpendapat, museum menjadi destinasi penting yang seharusnya dikunjungi oleh para pelajar. Pasalnya, di sana tersimpan bukti-bukti sejarah yang patut diketahui generasi muda.
"Kalau di negara-negara maju, tempat yang paling ramai itu dua, museum dan perpustakaan. Keduanya saling melengkapi, yakni museum sebagai bukti sejarahya sedangkan perpustakaan tempat buku-bukunya. Tetapi di Indonesia museum sama perpustakaan banyak yang sepi," tuturnya kepada Okezone di Muskitnas, Jakarta, belum lama ini.
Minat generasi muda Indonesia ke museum, kata dia, masih cukup rendah. Padahal, biaya masuknya sangat murah. Di Muskitnas, untuk ranak-anak dikenakan biaya Rp500 per anak untuk rombongan dan Rp1.000 per anak untuk perorangan. Sedangkan pengunjung dewasa ditarik Rp2.000 per orang, namun jika rombongan cukup Rp1.000 per orang.
"Masalah berikutnya sekarang sekolah tak boleh memungut biaya sehingga takut mengadakan study tour ke tempat tertentu. Padahal saya rasa berkunjung ke museum biayanya cukup minim dan bermanfaat bagi pelajar. Sedangkan sebagian orang menganggap museum seram, oleh karena itu di sini jendela dan pintu-pintu dibuka, diberi lampu, supaya pengunjung tidak usah takut," ucapnya.