"Selanjutnya, limbah mill juice dari perasan kulit dan tongkol daging nanas sebesar 4 ton per hari. Lalu limbah kotoran sapi padatan 40 ton per hari dan cairan 120 meter kubik per hari serta limbah tapioka 20 ton per hari," papar dosen Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta itu.
Menurut Susila, pengelolaan limbah organik segar dan limbah pengalengan nanas sebagai bahan pembenah tanah ultisol bisa menjadi solusi terhadap permasalahan tersebut. Penggunaan berbagai kombinasi bahan limbah organik segar dan pengalengan nanas pada ketebalan tanah diharapkan dapat meningkatkan kesuburan tanah.
"Hasil penelitian menunjukkan penggunaan berbagai kombinasi limbah nanas segar dan pengalengan terbukti mampu meningkatkan kandungan karbon dalam tanah. Melalui pemberian bahan organik segar dapat meningkatkan kadar karbon tanah dari 20 persen menjadi 28,40 persen pada ketebalan 0-15 cm di Ultisol perkebunan nanas," tutur Susila.
(Margaret Puspitarini)