Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wamendikdasmen Fajar: Tak Hanya Prestasi, Karakter Siswa Juga Penting

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Sabtu, 06 Juni 2026 |12:29 WIB
Wamendikdasmen Fajar: Tak Hanya Prestasi, Karakter Siswa Juga Penting
Wamendikdasmen Fajar: Tak Hanya Prestasi, Karakter Siswa Juga Penting (Foto: Kemendikdasmen)
A
A
A

JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari prestasi akademik. Menurutnya, pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian siswa harus menjadi perhatian utama sekolah dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Usai perayaan Hari Raya Waisak, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq melakukan kunjungan ke sekolah milik Yayasan Prajna Mitra Maitreya di Kota Dumai, Provinsi Riau, Jumat (5/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan motivasi kepada para siswa dalam acara pelepasan siswa SMP Maitreyawira.

Dalam sambutannya, Fajar menekankan peran strategis guru dalam proses pendidikan. Menurutnya, guru tidak sekadar menjalankan tugas administratif pembelajaran, melainkan harus menjadi perancang utama pengalaman belajar siswa.

“Bapak ibu guru bukan operator pembelajaran, tetapi arsitek pembelajaran. Operator hanya menjalankan, sementara arsitek menghadirkan kreasi, inovasi, dan kontekstualisasi sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna,” ujar Wamen Fajar.

Selain peran guru, Fajar juga menegaskan pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam sistem pendidikan nasional. Nilai-nilai seperti saling menghormati dan tidak mencaci-maki dinilai sejalan dengan agenda penguatan karakter yang tengah didorong pemerintah.

“Prestasi itu penting, tetapi tidak kalah penting juga adalah karakter. Sekolah ini memiliki semangat ‘mendidik manusia yang berakhlak mulia’, yang berarti memberikan penekanan pada keunggulan akhlak dan kedalaman spiritual,” kata Fajar.

Pendidikan di Era AI

Dalam konteks pendidikan modern, terutama di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Fajar mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu ditentukan oleh kecerdasan akademik semata. Faktor seperti keuletan, kedisiplinan, kepribadian, dan kemandirian justru memiliki peran besar dalam menentukan kesuksesan.

Wamen Fajar juga mengapresiasi penggunaan tiga bahasa pengantar di sekolah tersebut, yakni Bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris. Menurutnya, pendekatan multibahasa sejak dini tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga memperkuat toleransi serta kecerdasan sosial dan emosional siswa.

“Setiap sistem pendidikan di negara-negara yang mengenalkan multilingualisme umumnya memiliki semangat toleransi yang tinggi. Ini tentu saja penting agar anak-anak kita tumbuh dalam keberagaman,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Pemerintah Prabowo melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 12 Tahun 2026 untuk mendorong penggunaan tiga bahasa di lingkungan sekolah, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Dumai, rata-rata lama sekolah (RLS) meningkat dari 10,15 tahun pada 2022 menjadi 10,29 tahun pada 2024. Capaian tersebut menunjukkan bahwa target program wajib belajar sembilan tahun telah terlampaui.
 

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement