YOGYAKARTA — Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti pelaksanaan Wisuda Program Sarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 di Universitas Gadjah Mada pada Kamis, 21 Mei 2026. Di tengah ribuan wisudawan yang memenuhi Grha Sabha Pramana, perhatian publik tertuju pada sosok muda bernama Elvina Marla Banowati, lulusan Sarjana Kedokteran UGM yang berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat Cumlaude dan raihan IPK 3,88.
Namun, bukan sekadar prestasi akademik Elvina yang membuat kisah ini begitu menyita perhatian. Di balik toga dan senyum bahagianya, tersimpan cerita keluarga yang begitu kuat, emosional, dan inspiratif. Elvina ternyata merupakan putri dari Dr. Ir. Lasarus Bambang S., ST., MM., IPU., CRGP., sosok yang lebih dahulu menjadi sorotan publik UGM pada April 2025 setelah dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Program Doktor dengan raihan IPK sempurna 4,00.
Kisah mereka disebut banyak orang sebagai salah satu cerita keluarga inspiratif di lingkungan akademik UGM dalam beberapa tahun terakhir.
Cerita luar biasa keluarga ini bermula pada 2 Agustus 2022. Tanggal tersebut menjadi salah satu hari paling bersejarah bagi keluarga Lasarus Bambang. Pada hari yang sama, ayah dan anak itu resmi mengenakan jas almamater Universitas Gadjah Mada dan memulai perjalanan akademik mereka di kampus yang sama, meski berada pada jenjang pendidikan yang berbeda.
Di satu sisi, Dr. Ir. Lasarus Bambang S., ST., MM., IPU., CRGP. memulai langkah sebagai mahasiswa Program Doktor UGM. Di sisi lain, sang putri, Elvina Marla Banowati yang juga lulusan SMA Negeri 8 Jakarta, menjalani hari pertamanya sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UGM. Bagi keluarga tersebut, momen itu bukan sekadar awal perkuliahan biasa. Hari itu menjadi simbol dimulainya perjuangan bersama antara ayah dan anak dalam mengejar cita-cita akademik di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Pemandangan ayah dan anak mengenakan jas almamater coklat muda atau khaki yang sama pada hari pertama kuliah menjadi kenangan yang hingga kini terus dikenang keluarga. Saat sebagian besar orang tua biasanya hanya mengantar anaknya memasuki dunia kampus, Lasarus justru ikut duduk sebagai mahasiswa baru bersama putrinya. Perjalanan unik tersebut sebelumnya sempat diungkap langsung oleh Lasarus dalam pidato wisuda doktoralnya pada April 2025 di hadapan rektor, sivitas akademika, para guru besar, serta ribuan wisudawan bersama keluarga yang memadati Grha Sabha Pramana UGM.
“Hari pertama saya mengenakan jas almamater UGM adalah 2 Agustus 2022. Di hari yang sama, anak saya juga mengenakan jas yang sama sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UGM,” ungkap Lasarus dengan suara bergetar pada saat pidato Wisuda Doktor 23 April 2025.
Ucapan tersebut sontak mengundang tepuk tangan panjang dari para hadirin. Tidak sedikit tamu undangan yang tampak terharu mendengar kisah perjalanan akademik ayah dan anak tersebut. Banyak pihak menilai momen itu bukan hanya unik, tetapi juga sarat makna. Kisah tersebut menggambarkan hubungan ayah dan anak yang tidak hanya dekat secara emosional, tetapi juga sama-sama memiliki semangat besar dalam dunia pendidikan.
Di tengah kesibukannya sebagai profesional di salah satu BUMN, Lasarus tetap memilih melanjutkan pendidikan doktoral. Sementara Elvina, yang sejak awal bercita-cita menjadi dokter, memulai perjuangan panjang di dunia kedokteran yang dikenal sangat kompetitif dan penuh tantangan akademik. Meski berasal dari generasi berbeda, keduanya menjalani ritme kehidupan kampus yang hampir serupa. Mereka sama-sama menghadapi tugas kuliah, ujian, penelitian, presentasi akademik, hingga tekanan untuk menyelesaikan studi dengan hasil terbaik.
Keluarga menyebut perjalanan tersebut sebagai pengalaman yang penuh perjuangan sekaligus kebersamaan. Ada kalanya ayah dan anak sama-sama mengerjakan tugas hingga larut malam, berdiskusi tentang dunia kampus, bahkan saling memberi semangat ketika menghadapi tekanan akademik.
“Anak calon dokter, bapak calon doktor,” ujar keluarga sambil mengenang masa-masa awal kuliah mereka di UGM.
Kalimat sederhana itu kemudian menjadi simbol yang melekat pada perjalanan akademik keduanya. Banyak warganet dan sivitas akademika menilai kisah tersebut sebagai gambaran nyata tentang budaya belajar dalam keluarga yang dibangun melalui keteladanan, disiplin, dan dukungan satu sama lain. Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin terdengar sederhana. Namun di lingkungan akademik, perjalanan ayah dan anak yang memulai pendidikan tinggi bersama di universitas yang sama merupakan hal yang sangat jarang terjadi.
Kini, hampir empat tahun setelah hari bersejarah itu, perjalanan mereka berbuah manis. Sang ayah telah menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat wisudawan terbaik dan IPK sempurna 4,00. Sementara sang anak berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran dengan predikat Cumlaude dan IPK 3,88. Dari hari pertama mengenakan almamater hingga sama-sama berdiri di panggung prestasi, kisah mereka menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menjadi perjalanan keluarga yang penuh inspirasi dan makna. Kesuksesan Elvina ini juga menjadi inspirasi dan motivasi buat adiknya, Yukio Marsa Yudhistira yang juga menjadi mahasiswa di salah satu PTN di Indonesia pada tahun 2026 ini.
Kisah keluarga Lasarus Bambang dan Elvina Marla Banowati tidak hanya menjadi perhatian dalam prosesi wisuda Universitas Gadjah Mada tahun 2026, tetapi juga berkembang menjadi simbol inspiratif tentang arti pendidikan dalam keluarga Indonesia modern. Di tengah berbagai cerita tentang persaingan akademik dan tekanan dunia pendidikan tinggi, perjalanan ayah dan anak ini justru menghadirkan wajah lain dari pendidikan: tentang keteladanan, kedekatan emosional, dan kebersamaan keluarga meraih cita-cita.
Banyak pihak menilai keberhasilan akademik keduanya bukan semata-mata lahir dari kecerdasan individual. Lebih dari itu, kisah mereka dianggap menunjukkan pentingnya budaya belajar yang dibangun dalam keluarga, dukungan emosional antar anggota keluarga, serta keteladanan orang tua yang hadir bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata.
Bagi banyak mahasiswa, sosok orang tua sering kali menjadi penyemangat dari luar lingkungan kampus. Namun dalam kisah ini, sang ayah justru ikut merasakan langsung kehidupan akademik bersama putrinya. Mereka memulai perjalanan pendidikan di kampus yang sama pada waktu yang sama, menghadapi tekanan akademik masing-masing, hingga akhirnya sama-sama menorehkan prestasi membanggakan.
Tidak sedikit mahasiswa maupun orang tua yang mengaku tersentuh oleh kisah tersebut. Banyak yang menilai perjalanan Lasarus dan Elvina menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal gelar dan prestasi, tetapi juga tentang hubungan keluarga yang saling menguatkan dalam proses panjang kehidupan.
Di media sosial, kisah mereka pun ramai diperbincangkan. Warganet memberikan berbagai julukan yang menggambarkan kekaguman terhadap perjalanan keluarga tersebut. Sebagian menyebut mereka sebagai “Keluarga Cumlaude UGM”, sementara yang lain menjuluki mereka “Duet Doktor dan Dokter Masa Depan”.
Ada pula yang menyebut kisah mereka sebagai “Ayah-Anak Paling Inspiratif di Wisuda UGM” hingga “Satu Almamater, Dua Generasi Berprestasi”. Pencapain prestasi tersebut tidak terlepas dari didikan dan doktrin yang telah mengakar kuat dari Bapak Sriyanto kepada putra-putrinya termasuk Dr. Lasarus Bambang.
Respons publik yang begitu besar menunjukkan bahwa cerita sederhana tentang keluarga dan pendidikan masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Di tengah kehidupan modern yang semakin kompetitif, kisah seperti ini dianggap menghadirkan nilai-nilai keteladanan yang mulai jarang terlihat.
Sejumlah alumni Universitas Gadjah Mada bahkan menilai perjalanan keluarga Lasarus menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan dapat menjadi ikatan emosional yang sangat kuat dalam keluarga. Pendidikan tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan kedekatan antar anggota keluarga melalui proses perjuangan yang dijalani bersama.
Bagi keluarga Lasarus sendiri, wisuda tahun ini bukan sekadar seremoni akademik biasa. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi penutup dari perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, pengorbanan, dan kebersamaan selama hampir empat tahun terakhir.
Sang ayah telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan predikat Cumlaude dan raihan IPK sempurna 4,00. Kini, sang anak resmi menyandang gelar Sarjana Kedokteran dengan predikat Cumlaude dan IPK 3,88. Dua generasi, dua bidang ilmu berbeda, namun dipersatukan oleh semangat belajar yang sama di Gadjah Mada Yogyakarta.
Walau menempuh jalan akademik yang berbeda, satu hal yang tetap melekat dalam perjalanan mereka adalah komitmen dan fokus untuk memberikan yang terbaik. Di balik toga hitam dan almamater biru khas UGM, tersimpan kisah tentang ayah dan anak yang berjalan bersama mengejar mimpi, saling mendukung dalam senyap, dan akhirnya sama-sama berdiri membanggakan di panggung akademik salah satu universitas terbaik di Indonesia. Bahkan pencapaian dokter muda Elvina ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain termasuk buat adiknya, Yukio Marsa Yudhistira yang menjadi mahasiswa salah satu PTN di Indonesia pada tahun ini.
Bagi banyak orang, kisah Elvina Marla Banowati yang saat ini sedang koas di berbagai rumah sakit disekitar Yogyakarta dan sang ayah bukan lagi sekadar berita wisuda. Kisah ini telah berkembang menjadi simbol harapan tentang pentingnya pendidikan dalam keluarga Indonesia, tentang mimpi yang diperjuangkan bersama, keteladanan orang tua yang hidup dalam tindakan nyata, dan keyakinan bahwa keberhasilan terbesar sering kali lahir dari keterbatasan namun dukungan keluarga yang saling menguatkan.
(Khafid Mardiyansyah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik