Semua ini membuat realitas sosial childfree yang awalnya asing menjadi familiar bagi Gen Z. Media sosial dengan kemampuannya melakukan viralisasi, echo chamber, framing, dan lain-lain berhasil membuat Gen Z melihat childfree sebagai sesuatu yang normal.
Tahap objektivasi adalah tahap di mana Gen Z menimbang informasi baru yang diterima (childfree) untuk diterima atau ditolak (sangat bergantung pada proses pemberian makna). Jika dimaknai positif akan diterima, jika dimaknai negatif akan ditolak. Pada tahap ini sebenarnya terjadi pertarungan sengit antara nilai budaya global childfree melawan nilai-nilai keindonesiaan yang eksis pada diri Gen Z.
Karena basis nilai keindonesiaan kebanyakan Gen Z cenderung lemah (baik berbasis agama maupun budaya, studi penulis pada 2024), pertarungan itu tidak terjadi. Gen Z tidak mempunyai apa yang disebut Berger sebagai stock of knowledge. Kalaupun memiliki, mereka menempatkan nilai-nilai keindonesiaan sebagai barang lapuk yang tidak cukup sakti untuk menghadapi tantangan zaman.
Akibatnya mereka cenderung menerima budaya global tanpa reserve, yang diperkuat dengan labelisasi nilai budaya global sebagai maju dan modern.
Karena nilai-nilai keindonesiaan tidak hadir di dalam diri Gen Z, budaya global menang mudah bahkan menang WO. Satu-satunya yang menjadi filter Gen Z menghadapi budaya global hanya penilaian matematis, yaitu apakah praktik childfree masuk akal. Ini merupakan kekhasan Gen Z yang cenderung melandaskan banyak hal hanya pada aspek rasionalitas.
Justru inilah kunci keberhasilan para penganjur childfree (dan umumnya penganjur nilai budaya global lainnya). Argumentasi mengapa childfree harus didukung basisnya adalah pemikiran rasional; yaitu karena persaingan ekonomi di masa datang akan semakin kompetitif. Hidup akan makin sulit, biaya hidup terlebih untuk membesarkan anak akan makin melangit, selain karena kualitas lingkungan akan makin memburuk.
Selain itu mendidik anak di-highlight sebagai urusan susah lagi merepotkan, sementara salah asuh anak bisa menjadi generasi penyumbang masalah. Lagi pula, bagaimana bisa mengembangkan karier dan memantapkan eksistensi diri kalau harus mengurus pipis dan tangis.
Penduduk dunia pun sudah over, mengapa pula perlu ditambah? Mengapa tidak mengurus anak terlantar, hewan terlantar, dan banyak hal lain yang terlantar?
Karena itu selain kebanyakan Gen Z dengan mudah menerima childfree, mereka juga melihat childfree sebagai solusi.
Kebanyakan Gen Z tidak punya pengetahuan bahwa mendidik generasi adalah tugas mulia yang harus dilakukan demi membangun dan mengembangkan peradaban, demi menjaga keberlangsungan kehidupan. Tiap tetes keringat yang dikeluarkan untuk hal itu akan berbuah kebaikan, akan menjadi legacy yang sangat berguna bagi masa depan generasi mendatang.
Tiap kantuk yang ditahan saat menjaga anak tidak akan sia-sia, karena akan dicatat oleh semesta dan akan diganjar oleh Sang Maha Pencipta.
Terakhir tahap internalisasi, yaitu tahap di mana individu mengadopsi realitas sosial childfree sebagai jati diri baru dirinya melalui sosialisasi. Sosialisasi dimaksud bukan berlangsung melalui keluarga, lembaga pendidikan, dan lembaga agama, akan tetapi melalui media sosial.