Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Media Sosial, Infiltrasi Budaya Global, dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan

Opini , Jurnalis-Jum'at, 06 Maret 2026 |19:19 WIB
Media Sosial, Infiltrasi Budaya Global, dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan
Media Sosial, Infiltrasi Budaya Global, dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan (Foto: Freepik)
A
A
A

Opini ditulis oleh: Dr. Wahidah R. Bulan, M.Si - Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

Dampak negatif menggunakan media sosial (medsos) secara berlebihan pada remaja (Gen Z) dibahas di banyak kesempatan dan forum. Umumnya menyoroti dari aspek kesehatan mental seperti munculnya low self esteem, kecemasan, dan stres; atau seperti dilansir JAMA Psychiatry (2019); tentang menguatnya kebiasaan membandingkan diri (social comparison), Fear of Missing Out (FOMO), cyberbullying, maupun tekanan popularitas akibat mengonsumsi medsos lebih dari tiga jam per hari.

Meski problem pada aspek kesehatan mental perlu jadi perhatian, bagi Indonesia kondisi situasionalnya jauh lebih gawat dan serius. Membiarkan anak dan remaja berinteraksi terlalu lama dengan medsos dapat menyebabkan mereka kehilangan jati dirinya sebagai anak dan remaja Indonesia. Mereka tidak kabur dari Indonesia, mereka tetap tinggal di Indonesia, tetapi lifestyle dan performance mereka tidak lagi menunjukkan kalau mereka (masih) remaja Indonesia.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Ulasan dua kasus berikut memberikan gambaran detail hal tersebut.

Demam K-Pop dan Orientasi Agar Terlihat Modern

Meski demam K-Pop terjadi di seluruh dunia, antusiasme penggemar K-Pop Indonesia tidaklah biasa. Pasar K-Pop di Indonesia diidentifikasi sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara (Bodden, 2005). Indonesia menjadi konsumen terbesar K-Pop di dunia. Pada tahun 2024 penjualan produk K-Pop di Indonesia menyentuh angka 18,47% (tertinggi di dunia) (Bintang Ridzky Alfathi, 20 Juni 2025). Pada tahun 2023 Indonesia didapuk sebagai tuan rumah untuk 44 konser dan fan meeting K-Pop.

Bayangkan berapa banyak jumlah rupiah yang berpindah dari kocek remaja Indonesia ke industri musik Korea. Uang itu dikeluarkan para pemuda Indonesia yang belum bekerja (pelajar dan mahasiswa), bahkan tidak sedikit yang menggunakan uang pinjaman online sebagai sumber pendanaan (14 September 2023, INDEF Soroti Bahaya Anak Muda Pakai Pinjol Demi Beli Album K-Pop).

Kegandrungan pemuda Indonesia kepada K-Pop pun ternyata tidak melulu karena musik. Tetapi karena penampilan fisik para aktor, pemandangan yang indah, gaya hidup glamor, dan keberhasilan para aktornya beradaptasi dengan kondisi kehidupan modern (Heryanto 2010, 220). Selain itu banyak remaja Indonesia yang menggandrungi K-Pop demi agar terlihat modern (Jung, 2021).

Pertimbangan mereka menggandrungi K-Pop sangat pragmatis. Semata mengandalkan rasionalitas individualistik (Rational Choice Theory: Coleman, 1989) yang bertentangan dengan jati diri masyarakat Indonesia yang komunalistik dan mengedepankan spirit collectivism. Karena itu kita harus melihat demam K-Pop bukan hanya kegandrungan kepada tren musik, akan tetapi par excellence tentang robohnya nilai-nilai keindonesiaan.

Fenomena Childfree dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan

Bagaimana nilai-nilai keindonesiaan terdegradasi akibat infiltrasi budaya global dapat kita lihat pada fenomena meningkatnya dukungan Gen Z Indonesia pada childfree yang secara teoretis dapat dijelaskan melalui Teori Konstruksi Sosial (Berger dan Luckmann, 1990; sebagaimana ditulis Ritzer, 2021).

Realitas sosial dibangun melalui proses dialektis yang berlangsung dalam tiga tahap, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.

Pada tahap eksternalisasi generasi muda Indonesia menemukan realitas baru (nilai dan praktik budaya global) seperti K-Pop, LGBT, paham agnostik, termasuk childfree di medsos. Diinisiasi sejumlah orang dan kelompok dengan sangat atraktif dan menggunakan model penyampaian yang sesuai dengan interest dan kecenderungan Gen Z sehingga pesan merebut perhatian dengan mudah (McCombs & Shaw, 1972).

Bukan hanya itu, Gen Z disuplai aneka informasi mendalam lagi intens tentang childfree oleh para penganjurnya, yang menjadi semakin hidup dengan kehadiran peran influencer yang diposisikan sebagai role model. Gita Savitri, Cinta Laura, juga Ariel Tatum disebut oleh banyak Gen Z sebagai faktor yang menentukan mengapa mereka mantap mendukung childfree.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement