JAKARTA – Profil dan pendidikan Bayu Risanto menarik perhatian publik setelah namanya resmi diabadikan sebagai nama asteroid oleh komunitas astronomi internasional. Bayu Risanto merupakan ilmuwan asal Indonesia sekaligus imam Katolik yang berhasil menorehkan prestasi besar di bidang meteorologi dan ilmu atmosfer.
Meski namanya belum banyak dikenal di Tanah Air, reputasinya sangat dihormati di dunia sains global. Penghargaan berupa penamaan asteroid menjadi bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam riset prakiraan cuaca dan atmosfer, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia.
Christoforus Bayu Risanto lahir dan besar di Bogor pada Januari 1981. Ia dikenal sebagai sosok multidisipliner yang memadukan sains, teologi, dan kepedulian lingkungan dalam perjalanan akademik dan profesionalnya.
Bayu bukan hanya ilmuwan, tetapi juga seorang imam Katolik yang aktif menjembatani hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan, terutama dalam isu perubahan iklim dan ketahanan lingkungan.
Perjalanan pendidikan Bayu Risanto tergolong unik dan lintas bidang, mencerminkan minatnya yang luas terhadap filsafat, teologi, dan sains:
Perpaduan latar belakang humaniora dan sains menjadikan Bayu sebagai figur langka dalam dunia akademik.
Bayu Risanto memiliki fokus utama pada peningkatan akurasi prakiraan cuaca, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan data observasi seperti negara tropis.
Dalam penelitiannya, ia mengombinasikan:
Pendekatan ini membantu menghasilkan prakiraan cuaca yang lebih presisi, yang sangat penting untuk mitigasi bencana, pertanian, dan keselamatan publik di Indonesia dan kawasan sekitarnya.
Asteroid Bernama Bayurisanto, Prestasi Bertaraf Dunia
Sebagai bentuk penghargaan, International Astronomical Union (IAU) melalui Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN) secara resmi menetapkan asteroid bernama:
(752403) Bayurisanto = 2015 PZ114
Penamaan asteroid hanya diberikan kepada individu yang dinilai berjasa besar dalam bidang ilmu pengetahuan, budaya, pendidikan, dan kemanusiaan. Karena itu, pencapaian ini menjadi prestasi langka dan prestisius bagi ilmuwan Indonesia.
Asteroid sendiri merupakan benda langit berbatu yang mengorbit Matahari, sebagian besar berada di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)