• Sekolah-sekolah di Istanbul dan Tekirdağ ditutup selama dua hari pasca-gempa untuk memastikan keamanan bangunan.
• Taman-taman kota dan masjid besar dibuka untuk menampung warga yang membutuhkan tempat perlindungan sementara.
• Pemerintah Turki juga mengerahkan lebih dari 3.500 personel tanggap darurat, termasuk 18 anjing pelacak, untuk mempercepat evakuasi dan pencarian korban.
Gempa ini diikuti oleh lebih dari 260 gempa susulan, termasuk dua gempa bermagnitudo di atas 5,0. Walaupun situasi kini sudah lebih stabil, para ahli memperingatkan bahwa wilayah Istanbul masih berada dalam risiko gempa besar ke depan, mengingat posisi kota ini di atas Sesar Anatolia Utara yang aktif.
Sebagai mahasiswa yang mengalaminya langsung, saya ingin berbagi beberapa catatan yang semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua:
Penting untuk mengetahui rencana evakuasi, titik kumpul darurat, dan memperhatikan kondisi bangunan tempat tinggal.
Banyak korban luka ringan justru terjadi karena panik berlebihan saat evakuasi.
Meskipun gempa utama sudah berlalu, potensi gempa susulan bisa tetap membahayakan, terutama untuk bangunan yang sudah rapuh.
Baik bagi masyarakat Indonesia di luar negeri maupun di tanah air, penting untuk memahami prosedur dasar mitigasi bencana gempa bumi.
Kini, kondisi di Istanbul sudah jauh lebih kondusif. Kami semua tetap menjalani aktivitas dengan lebih waspada, mengikuti arahan dari otoritas lokal dan pihak universitas.
"Dukungan dan doa dari keluarga di Indonesia sangat berarti bagi kami di sini. Semoga pengalaman ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kesiapsiagaan, tanpa perlu menunggu hingga bencana benar-benar terjadi," pungkasnya.
(Taufik Fajar)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik