JAKARTA - Istanbul Turki mengalami guncangan besar akibat gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang berpusat di Laut Marmara, dekat Silivri.
Mahasiswa Indonesia Haritsah Mujahid mengatakan bahwa dirinya merasakan langsung betapa besarnya dampak dari bencana tersebut, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis.
"Sekitar pukul 12:49 siang waktu setempat, saya bersama beberapa teman serumah tengah berbincang santai di ruang tengah. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, hingga tiba-tiba terjadi guncangan yang sangat kuat. Tanpa berpikir panjang, kami semua langsung berlari keluar rumah," ujarnya, Senin (5/5/2025).
"Suasana yang sama terjadi di seluruh lingkungan sekitar, para warga berhamburan ke jalan, mencari area terbuka supaya lebih aman. Kami bertahan di luar rumah selama beberapa jam hingga situasi dirasa lebih aman," tambahnya.
Malam harinya, banyak dari kami yang tetap waspada dan memilih tidur dalam keadaan siap-siaga, mengantisipasi kemungkinan gempa susulan.
"Saya juga mendapatkan kabar dari beberapa teman diaspora Indonesia lainnya yang tinggal lebih dekat dengan pusat gempa, bahwa mereka sempat mengungsi beberapa malam ke lokasi yang lebih aman," tuturnya.
Menurut laporan resmi, lebih dari 2.900 bangunan mengalami kerusakan di Istanbul dan sekitarnya. Pemerintah setempat segera mengambil langkah cepat: