Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

90% Sekolah Hancur karena Serangan Israel, Masa Depan Anak-Anak di Gaza Terancam

Ghanny Rachmansyah S , Jurnalis-Senin, 09 September 2024 |09:36 WIB
90% Sekolah Hancur karena Serangan Israel, Masa Depan Anak-Anak di Gaza Terancam
90% sekolah di gaza hancur karena serangan Israel (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA – Lebih dari 90% gedung sekolah di Gaza rusak akibat pengeboman dan serangan Israel. Termasuk sekolah dikelola oleh UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina.

Data ini diungkap Klaster Pendidikan Global, sebuah koalisi organisasi bantuan yang dipimpin oleh UNICEF dan organisasi nirlaba, Save the Children. Hancurnya sekolah mengancam masa depan anak-anak di Gaza.

Ketika Gaza memulai tahun ajaran sekolah kedua tanpa kegiatan belajar-mengajar, sebagian besar anak-anak usia sekolah malah sibuk membantu keluarga mereka bertahan hidup di tengah serangan Israel yang menghancurkan.

Anak-anak berjalan tanpa alas kaki melalui jalan tanah untuk membawa air dalam jeriken plastik dari titik distribusi ke keluarga mereka yang tinggal di kota-kota tenda yang dipenuhi pengungsi Palestina. Sementara itu, yang lain mengantre di dapur umum untuk mendapatkan ransum.

Pekerja kemanusiaan memperingatkan bahwa kurangnya pendidikan yang berkepanjangan bisa mengakibatkan dampak negatif jangka panjang bagi anak-anak Gaza. Anak-anak dengan usia lebih muda akan mengalami gangguan dalam perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka, sementara anak-anak yang berusia lebih tua berisiko terjebak dalam pekerjaan atau pernikahan dini, kata Tess Ingram, juru bicara regional Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation's Children Fund/UNICEF)

"Semakin lama seorang anak tidak bersekolah, semakin besar risiko mereka putus sekolah secara permanen dan tidak kembali," katanya, dilansir dari BBC, Senin (9/9/2024).

Sebanyak 625.000 anak usia sekolah di Gaza kehilangan hampir satu tahun penuh pendidikan. Sekolah-sekolah ditutup menyusul serangan Israel sebagai balasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober. Belum jelas kapan anak-anak itu bisa kembali bersekolah karena perundingan-perundingan untuk menghentikan perang antara Israel dan Hamas belum membuahkan hasil.

Sebanyak 85% bangunan sekolah mengalami kerusakan parah hingga memerlukan rekonstruksi bertahun-tahun. Universitas-universitas di Gaza juga hancur. Israel berpendapat bahwa militan Hamas beroperasi di sekolah-sekolah tersebut.

Sekitar 1,9 juta dari 2,3 juta penduduk Gaza diusir dari rumah mereka dan kini tinggal di kamp-kamp tenda yang tidak memiliki sistem air atau sanitasi. Banyak dari mereka juga bertumpuk di sekolah-sekolah PBB dan pemerintah yang kini berfungsi sebagai tempat penampungan.

Kelompok-kelompok bantuan berupaya menyiapkan alternatif pendidikan, tetapi hasilnya terbatas karena mereka harus menangani berbagai kebutuhan mendesak lainnya.

UNICEF dan lembaga-lembaga bantuan lainnya mengoperasikan 175 pusat pembelajaran sementara, sebagian besar didirikan sejak akhir Mei, yang melayani sekitar 30.000 siswa dengan bantuan sekitar 1.200 guru sukarelawan, kata Ingram. Mereka menawarkan kelas literasi dan numerasi serta kegiatan untuk kesehatan mental dan pengembangan emosional.

Namun, dia mengatakan mereka kesulitan memperoleh perlengkapan seperti pena, kertas, dan buku karena barang-barang tersebut tidak dianggap sebagai material prioritas penyelamatan nyawa, sementara kelompok bantuan berjuang untuk mengirimkan cukup makanan dan obat-obatan ke Gaza.

Pada Agustus, UNRWA meluncurkan program "kembali belajar" di 45 sekolah yang beralihfungsi menjadi tempat penampungan. Program ini menyediakan kegiatan seperti permainan, drama, seni, musik, dan olahraga untuk anak-anak, bertujuan memberi mereka waktu istirahat, kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman-teman, dan merasakan kembali masa kanak-kanak mereka, kata juru bicara Juliette Touma.

Palestina telah lama menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Sebelum perang, Gaza memiliki tingkat literasi yang sangat tinggi, hampir 98%.

Saat terakhir kali mengunjungi Gaza pada April, Ingram mengungkapkan bahwaanak-anak sering mengatakan kepadanya bahwa mereka rindu kembali bersekolah, teman-teman, dan guru-guru mereka. Ketika seorang anak laki-laki menjelaskan betapa dia ingin kembali ke kelas, dia tiba-tiba berhenti dengan panik dan bertanya, "Saya bisa kembali, bukan?"

"Itu sangat memilukan bagi saya," katanya.

Orang tua melaporkan bahwa tanpa adanya kegiatan belajar mengajar di sekolah, ditambah dengan trauma dari pengungsian, pengeboman, serta kerugian keluarga, anak-anak mereka mengalami perubahan emosional. Beberapa menjadi cemberut dan menarik diri, sementara yang lain mudah gelisah atau frustrasi.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement