JAKARTA – Lebih dari separuh mahasiswa sarjana Inggris mengaku menggunakan program kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengerjaan esai mereka.
Tak hanya itu, para guru juga memanfaatkan teknologi AI untuk membantu dalam perencanaan pembelajaran, dengan harapan dapat mengurangi beban kerja mereka.
Penemuan ini berdasarkan sebuah survei terhadap lebih dari 1.000 mahasiswa sarjana di Inggris, yang dilakukan oleh Higher Education Policy Institute (Hepi).

Lebih dari 50% Mahasiswa Menggunakan AI
Dalam survei tersebut, menemukan bahwa 53% dari mereka menggunakan AI untuk membuat materi yang mereka gunakan dalam pengerjaan tugas, termasuk membuat esai.
Satu dari empat orang menggunakan aplikasi seperti Google Bard atau ChatGPT untuk memberikan saran terkait topik, sedangkan satu dari delapan orang menggunakannya untuk membuat konten. Hanya 5% yang mengaku menyalin dan menempelkan teks yang dihasilkan oleh AI tanpa diedit ke dalam tugas mereka.
Andres Guadamuz, seorang pembaca hukum kekayaan intelektual di University of Sussex, mengatakan bahwa tidak mengherankan jika semakin banyak mahasiswa yang menggunakan AI dalam proses pendidikan mereka. Bahkan, dirinya menyarankan agar institusi perlu membahas secara kritis terkait cara terbaik untuk mengintegrasikan AI sebagai alat pembelajaran yang efektif.
“Saya telah menerapkan kebijakan untuk melakukan percakapan yang matang dengan siswa tentang AI generatif. Mereka berbagi dengan saya tentang bagaimana mereka memanfaatkannya,” kata Guadamuz seperti dilansir The Guardian, Senin (5/2/2024).
BACA JUGA:
Akan tetapi, Guadamuz khawatir terkait karena adanya keberadaan AI yang dapat membuat para mahasiswa menjadi terlena akan kemajuan teknologi yang dapat memberikan kemudahan atas segalanya.
“Kekhawatiran utama saya adalah banyaknya siswa yang tidak menyadari potensi 'halusinasi' dan ketidakakuratan dalam AI. Saya yakin ini adalah tanggung jawab kita sebagai pendidik untuk mengatasi masalah ini secara langsung,” ujarnya.
Menurut survei Hepi, satu dari tiga siswa yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) tidak menyadari seberapa sering AI "berhalusinasi". Hal ini mencakup pembuatan statistik, kutipan akademis, atau judul buku untuk mengisi apa yang dianggap sebagai kekosongan informasi.
Guadamuz sendiri mengatakan bahwa dia telah menyerahkan beberapa esai tahun lalu yang jelas-jelas menggunakan keluaran ChatGPT yang belum diedit. Dirinya dapat mengidentifikasi esai tersebut oleh karena gaya penulisannya yang terlihat membosankan dan kaku.
Guadamuz menyarankan perlu adanya adaptasi yang dilakukan oleh para pengajar sehingga dapat meminimalisir hal tersebut.
“Dunia sedang berkembang, dan sebagai pendidik kita perlu beradaptasi dengan menetapkan pedoman dan kebijakan yang jelas, serta merancang penilaian yang lebih menantang. Namun, hal ini sulit dilakukan di tengah keterbatasan sumber daya di mana para akademisi sudah terbebani dan dibayar rendah,” kata Guadamuz.
AI Dapat Membantu Para Guru
Para guru juga berusaha memanfaatkan AI untuk mempermudah pekerjaan mereka. Education Endowment Foundation (EEF) telah mendaftarkan beberapa sekolah menengah untuk proyek penelitian baru yang mengeksplorasi penggunaan AI dalam menciptakan rencana pembelajaran, materi pengajaran, serta model ujian dan jawaban.
Menurut usulan dari EEF, penggunaan AI dapat membantu mengurangi beban kerja guru serta meningkatkan kualitas pengajaran mereka.
Gillian Keegan, sekretaris pendidikan, mengungkapkan bahwa AI dapat mengambil peran dalam tugas yang membutuhkan banyak waktu dalam penilaian dan perencanaan bagi para guru.
Setengah dari total 58 sekolah di Inggris yang berpartisipasi dalam proyek EEF akan diberikan perangkat untuk membuat materi penilaian seperti soal latihan, ujian, jawaban model, dan untuk menyesuaikan pembelajaran untuk kelompok anak-anak tertentu.
Rencana pembelajaran yang dihasilkan oleh AI akan dinilai oleh panel ahli independen. Kepala eksekutif EEF Becky Francis, mengatakan bahwa sudah ada antisipasi besar mengenai bagaimana teknologi ini dapat mengubah peran guru.
Akan tetapi, masih adanya keterbatasan terkait penelitian mengenai dampak sebenarnya terhadap praktik tersebut.
“Temuan dari uji coba ini akan menjadi kontribusi penting terhadap basis bukti, membawa kita lebih dekat pada pemahaman bagaimana guru dapat menggunakan AI,” jelas Becky.
(Dani Jumadil Akhir)