JAKARTA - ASEAN rentan terimbas guncangan mitra dagang utama, seperti perang dagang antara Amerika dan Tiongkok yang signifikan melemahkan rantai nilai industri ASEAN. Hal itu dibahas oleh para akademisi dalam diskusi antara lembaga riset Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) dan Universitas Tanjungpura (Untan).
Dengan tema Menyelami Posisi Strategis Indonesia dalam Rantai Nilai Global: Perspektif Nasional, Regional, dan Internasional” akademisi membahas bagaimana Indonesia mampu memanfaatkan momentum kompetisi geoekonomi terhadap capaian ideal rantai nilai global menurut Dekan FISIP Untan Herlan. Ketua Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Nurfitri Nugrahaningsih mengatakan adopsi rantai nilai global menjadi suatu konteks krusial.
"Tidak hanya implikasinya terhadap pertumbuhan ekonomi, rantai pasok global mampu menghadirkan akses pengetahuan dan transfer teknologi negara maju kepada negara-negara berkembang," katanya dalam keterangan, Selasa (31/10/2023).
Dia mengatakan sebagai salah satu provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Kalimantan Barat memanfaatkan posisi strategisnya pada sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, serta pelabuhan internasional.
BACA JUGA:
"Oleh karena itu, diperlukan upaya kontrol negara dalam menyempurnakan proses partisipasi rantai nilai global tingkat nasional. Intervensi mencakup perbaikan infrastruktur, struktur industri, perangkat regulasi, promosi, kebijakan luar negeri, pendidikan dan pelatihan hingga sikap responsif akan perubahan lingkungan dewasa ini," ujarnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Christina Ruth Elisabeth Tobing menyebut ASEAN sebagai pusat rantai nilai paling strategis, dibandingkan kawasan negara berkembang lain, seiring semakin terintegrasinya perekonomian kawasan. Meskipun demikian, rantai nilai global ASEAN rentan terimbas guncangan mitra dagang utama, seperti perang dagang antara Amerika dan Tiongkok yang signifikan melemahkan ASEAN.
"Untuk itu, diperlukan koordinasi kebijakan tingkat regional guna mempersiapkan infrastruktur lunak dan infrastruktur keras dalam menyelaraskan manfaat rantai nilai global bagi negara anggota ASEAN," kata Christina.
BACA JUGA:
Indah Lestari (Analis Ekonomi Politik LAB 45) membagikan temuan hasil riset LAB 45 bahwa bahasan geoekonomi tidak terlepas dari diskursus konektivitas global khususnya terkait rantai nilai global. Kerangka kerja konektivitas menjadi prakarsa strategis bagi negara-negara adidaya untuk membangun kepentingan geopolitik.
Kepentingan negara-negara adidaya tersebut kemudian diterjemahkan melalui jaringan rantai nilai (global value chain) yang dimaksudkan untuk memperkuat posisinya di tingkat global. Riset LAB 45 juga melakukan penjabaran objektif potensi peluang dan tantangan yang hadir dalam setiap gagasan konektivitas, dengan rekomendasi kebijakan sebagai tombak kajian strategis.
Indah Lestari menambahkan, optimalisasi peran Indonesia dalam menghadapi carut marut geoekonomi dapat dilakukan melalui pendayagunaan peluang kerja sama internasional maupun perbaikan secara mandiri. Indonesia sebagai salah satu pencetus gagasan, perlu menarik manfaat dari ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dituntut konsistensi dan peranan aktif Indonesia dalam kerja sama multilateral forum internasional. Pada sisi lain, fokus perbaikan juga perlu dihadirkan dalam hal modal manusia, kualitas institusional, kebijakan perdagangan dan investasi, serta pembangunan infrastruktur.
BACA JUGA:
"Peningkatan ketahanan Indonesia dalam sektor-sektor strategis juga berlaku penting untuk mengupayakan pemanfaatan daya tawar Indonesia dalam nilai tambah strategis rantai nilai global," ucapnya.
(Marieska Harya Virdhani)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik