JAKARTA - Dua mahasiswa pascasarjana Universitas Sains Islam Malaysia asal Palestina tewas dalam serangan di Beit Hanoun pada Minggu lalu (8/10/2023). Mereka adalag pasangan suami istri yang sedang melakukan penelitian.
Suara bom yang berulang kali terdengar pagi sampai malam meninggalkan rasa ketakutan hingga trauma bagi para warga Palestina. Kisah pilu lagi-lagi datang dari Gaza, Palestina. Sejak serangan yang dilakukan hamas beberapa minggu lalu, Israel semakin menjadi-jadi membombardir Gaza.
Pasangan itu adalah salah satu rakyat sipil yang tidak bersalah jadi korban dari peristiwa ini, termasuk para pelajar dan anak-anak. Dikonfirmasi oleh pihak Universitas Sains Islam Malaysia, sepasang pasangan suami istri
yang juga mahasiswa USIM Malaysia, Mohamad J.H Alzaanin dan Kholoud M.H Elzaneen turut jadi korban atas konflik di wilayah Gaza baru-baru ini.
BACA JUGA:
Dilansir dari The Star, Minggu (15/10/2023), Mohamad menempuh program manajemen sumber daya manusia, sedangkan istrinya Kholoud sedang mengerjakan penelitian untuk gelar Magister dari Fakultas Sains dan Teknologi USIM. Padahal mereka dijadwalkan akan segera menghadapi ujian lisan kelulusan atau viva-voce.
Dua mahasiswa ini punya mimpi dan harapan untuk memberikan kontribusi kepada tanah air mereka, Palestina. Kesungguhan mereka sangat jelas terbukti menimba ilmu jauh ke Asia sampai ke jenjang pascasarjana. Upaya ini mereka lakukan untuk membangun negeri mereka.
“Mohamad baru saja menyelesaikan sesi viva-voce di USIM pada 5 Juli sementara istrinya dijadwalkan menyelesaikan sesi viva-voce pada 23 Oktober,” kata pihak USIM, dikutip Minggu (14/10/2023).
Takdir berkata lain, ternyata Tuhan lebih menyayangi mereka. Pukul 8 pagi di Beit Hanoun jadi kejadian yang memilukan untuk mereka serta empat orang buah hati mereka yang masih sangat kecil, yang seharusnya masih punya mimpi yang harus mereka kejar.
BACA JUGA:
Konflik antara Israel dan Palestina memisahkan banyak pelajar, mahasiswa, dan anak-anak dari keluarganya. Dari peristiwa kemarin, keluarga kecil Mohamad dan Kholoud meregang
nyawa. Hanya satu anak yang masih bertahan hidup. Kini anak tersebut hidup sendiri tanpa keluarganya yang semula ramai.
(Marieska Harya Virdhani)