Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peneliti University of Michigan Ungkap Dampak Sinar Matahari Picu Migrain

Chindy Aprilia Pratiwi , Jurnalis-Senin, 09 Oktober 2023 |13:50 WIB
Peneliti University of Michigan Ungkap Dampak Sinar Matahari Picu Migrain
Peneliti University of Michigan ungkap dampak matahari pada migrain (Foto: College Advisor)
A
A
A

JAKARTA - Terpapar sinar matahari terlalu lama bisa berdampak pada kesehatan. Peneliti mengaitkannya salah satunya dengan penyakit migrain atau yang dikenal awam sebagai kondisi sakit kepala sebelah.

Sensitivitas migrain ini dapat menghasilkan rasa sakit dan ketidaknyamanan selama terkena serangan bahkan berlama-lama dibawah terik cahaya matahari. Hal itu dikarenakan kecerahan, intensitas, serta panjang selombang cahaya yang dihasilkan.

Salah satu survei terbaru terhadap lebih dari empat ribu orang dengan migrain menunjukkan bahwa 89 persen diantaranya menjadi sensitif terhadap cahaya selama terkena migrain. Bahkan baru-baru ini peneliti dari University of Michigan menemukan bahwa fluktuasi dopamin yang dilepaskan oleh otak dapat mempengaruhi gerakan, emosi, dan kesenangan, diantara fungsi-fungsi lainnya.

Sehingga hal itu menjelaskan mengapa penderita migrain akan mengalami sensitivitas terhadap cahaya selama terkena migrain serta reaksi menyakitkan lainnya terhadap sentuhan, suara, dan penciuman. Untuk itu, adapun beberapa pilihan untuk mengobati sensitivitas cahaya terkait migrain, dengan menggunakan kacamata hitam berkualitas saat berada di luar ruangan, mengenakan topi, mengganti bola lampu, dan melakukan penyesuaian terhadap lingkungan.

 BACA JUGA:

Menurut laman Cordis, Senin (9/10/2023), sebuah penelitian menemukan bahwa paparan sinar matahari langsung yang berkepanjangan dapat merusak kinerja motorik dan kognitif seseorang. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan seseorang merasa lelah karena tubuh menjadi tidak seperti biasanya.

Sinar matahari yang terik akan berdampak juga terhadap gangguan otak. Hal ini dikarenakan paparan sinar matahari yang berkepanjangan dapat merusak sistem kerja otak manusia. Paparan yang terjadi pada kepala dan leher akan memicu peningkatan suhu inti sebesar 1 derajat celcius dan gangguan signifikan lainnya dari kinerja tugas motorik dan dominasi kognitif.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement