Share

Resensi Buku: Anarkisme Untuk Pemula

Yopi Muharam, Presma · Jum'at 31 Maret 2023 21:02 WIB
https: img.okezone.com content 2023 03 29 65 2789241 resensi-buku-anarkisme-untuk-pemula-o1zoJoZHHi.jpg Buku Anarkisme untuk Pemula (Dok: Goodreads)

 

JAKARTA - “Kaum Anarkis bertarung melawan kekuasaan, penindasan, dan Negara, yang mencapai kulminasinya lewat terciptanya ribuan kolektif petani di masa sebelum diktaktor Franco berkuasa di Spanyol. Pencapaian itu memiliki pengaruh luas terhadap masyarakat di seluruh dunia.”

Begitulah kutipan dari belakang sampul buku berjudul ‘Anarkisme Untuk Pemula’.

Anarkisme sebagaimana kita ketahui selalu di objektifikasi sebagai sesuatu yang brutal, vandal, tidak beradab, tidak beretika dan semua perilaku bernuansa negatif-nya.

Begitu halnya ketika Kamus Besar Bahasa Indonesia mengamini semua arti dari Anarkisme itu sendiri sebagai pengacau, perusuh, dan segala tetek bengek gantinya.

Sesuai dengan judulnya ‘Anarkisme Untuk Pemula’, merupakan buku yang memperkenalkan secara singkat dengan apa yang dinamakan ‘Anarki’. Sejatinya anarki tercipta untuk menentang sebuah sistem pemerintahan, sebagaimana yang dijelaskan di halaman dua pada buku ini.

Pemikiran dasar anarkis adalah bahwa negara dan atau pemerintahan adalah alat utama penindasan manusia yang telah berlangsung sepanjang sejarah dan hal itu menjadi alasan untuk menciptakan cara hidup lewat solidaritas dan kebebasan.

Perlu diketahui, Anarkisme dikenalkan pada abad 17. Saat itu, di belahan seantero Eropa sedang panas-panasnya gaungan revolusi, di mana Anarkisme turut andil pada gerakan tersebut. Sebut saja Joseph Proudhon yang berkontribusi besar dalam pemikiran Anarkisme.

Pasalnya pemikir sekaligus penulis asal Prancis tersebut mengeluarkan buku pada tahun 1841 bertajuk ‘Apa itu Properti?’, inilah awal kiprah ia dijuluki pada buku ini sebagai sang pionir.

Follow Berita Okezone di Google News

Disebutkan di buku ini bahwa Proudhon mengajukan penolakannya terhadap relasi yang didasarkan pada keuntungan ekonomis dan menyatakan bahwa kontrak sosial yang menjadi dasar ideologi liberal hanyalah sandiwara.

Berbicara tentang Anarkisme, selain Proudhon, tokoh besar penggagas Anarkisme berikutnya adalah Mikhail Bakunin, tak banyak menulis seperti halnya Proudhon, ia lebih sering aktif langsung mempraktekannya ke lapangan. Perbedaan dari keduanya bisa dilihat dari bagaimana Proudhon menciptakan sebuah konsep, maka bakunin adalah realitas yang mendesak untuk mewujudkannya.

Buku bertajuk sosial-sejarah ini tidak hanya menceritakan kiprah-kiprah sang tokoh. Tapi juga menceritakan bagaimana anarkisme berkembang di setiap Negara, seperti: Spanyol, Perancis, Italia, Rusia Jerman dan lainya yang terkenal pada abad itu dengan demonstrasi sampai vandalisme.

Buku ini berbeda dengan buku yang lainnya, di mana pembuka dari buku ini tidak adanya daftar isi, no ISBN, kata pengantar dll. Tetapi langsung kepada judul atau bab. Sesuai sang pemikir anarkisme Mikhail Bakunin yang selalu mengedepankan kebebasan, maka di buku inilah kebebasan itu tercipta.

Buku seberat ± 0.20 kg dengan 168 halaman diterbitkan oleh ‘Daun Malam’ ditulis oleh seorang jurnalis sekaligus professor Marcos Mayer.

Buku bernuansa politik ini tulis dengan bahasa ringan yang membuat orang awam nyaman untuk membacanya, ditambah lagi dengan ilustrasi bersemi komik yang digambar oleh Sanyu seorang ilustrator dan kartunis Argentina yang sebenarnya bernama Hector Alberto Sanguiliano.

Sebelum saya menutup tulisan ini, ijinkan saya untuk mengutip sebuah utas yang membekas di pikiran saya. “Mencoblos dalam pemilu, sebagaimana yang terjadi di dalam masyarakat liberal adalah sebuah cara untuk mengesahkan struktur kekayaan dan melanjutkan semua hal sebagaimana adanya tanpa mempengaruhi akar dari penindasan.”

1
3
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini