Share

Apakah Normal Tertawa di Atas Penderitaan Orang Lain?

Nina Aninda Sari, Presma · Rabu 07 Desember 2022 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 07 624 2722399 apakah-normal-tertawa-di-atas-penderitaan-orang-lain-GemV0IJXBI.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Di zaman yang semakin berkembang ini, akses terhadap internet juga semakin mudah di dapat. Akses terhadap internet ini kemudian mendukung pengunaan media sosial sehingga banyak orang yang menjadi content creator.

Ketika konten yang mereka buat nantinya akan diunggah ke banyak orang dan komunitas di media sosial.

Namun, demi popularitas, mereka seringkali membuat konten dengan memanfaatkan keadaan dengan usil terhadap orang lain yang biasanya disebut dengan “Prank”.

Salah satu contoh konten prank yang pernah viral, yaitu saat seorang pemuda bersama dengan beberapa temannya membagikan kardus sembako yang di dalamnya berisi sampah.

Setelah membagikan kardus tersebut, mereka terlihat tertawa bahagia, seolah hal tersebut bukan merupakan suatu hal yang salah.

Kejadian tersebut disebut dengan fenomena schadenfreude. Schadenfreude merupakan kata majemuk dari kata Jerman, yaitu Schaden yang berarti kerugian, dan Freude, yang berarti sukacita.

Follow Berita Okezone di Google News

Pada tahun 1895, Oxford English Dictionary (OED) memasukkan kata Schadenfreude untuk pertama kalinya dan mendefinisikannya sebagai kenikmatan jahat atas kemalangan orang lain (Abdillah, 2019).

Schadenfreude kemudian didefinisikan sebagai “pleasure derived from another’s misfortune”, yaitu “kebahagiaan yang berasal dari kemalangan orang lain”.

Hal ini menggambarkan emosi dalam diri seseorang yang seringkali muncul saat orang lain mengalami hal buruk (Hasanah et al., 2022).

Shcadenfreude ini muncul karena adanya emosi negatif yang ditimbulkan oleh peristiwa membahayakan atau mengancam kekhawatiran individu, sedangkan emosi positif ditimbulkan oleh peristiwa yang memuaskan kekhawatiran ini.

Contoh emosi negatif yang menjadi anteseden dari schadenfreude, yaitu rasa iri (envy), rasa pantas (deservedness), rasa tidak suka (dislike), inferiority; dan social sharing emotion.

Anteseden ini merupakan emosi negatif yang dapat memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu (Thinking et al., 2022).

Dengan kata lain, sesuatu tentang kemalangan orang lain harus dapat memberikan kepuasan atas masalah atau kekhawatiran orang yang mengalami schadenfreude.

Dengan demikian, kemalangan seorang teman yang didengki, dapat membangkitkan schadenfreude jika kemalangan ini memberi manfaat psikologis bagi pelaku.

Oleh karena itu, schadenfreude ini dinilai sebagai perilaku yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan moral.

Sebagai makhluk sosial, manusia seharusnya bisa saling tolong-menolong apabila yang lain sedang dalam keadaan yang sulit, bukan malah bergembira dan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.

Manusia tidak akan dapat hidup di muka bumi ini apabila tidak ada makhluk hidup lain, sehingga rasa empati dan simpati yang ada di dalam diri manusia harus ditumbuhkan sejak dini.

Nina Aninda Sari

 

Aktivis Persma Erythro FK UNS

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini