Share

Peran Sarwo Edhie dalam Mengharmoniskan Hubungan Tentara-Mahasiswa Serta Hapus Perpeloncoan

Nadilla Syabriya, Okezone · Senin 03 Oktober 2022 17:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 03 624 2679662 peran-sarwo-edhie-dalam-mengharmoniskan-hubungan-tentara-mahasiswa-serta-hapus-perpeloncoan-11BfTvnRNt.jpg Sarwo Edhie Wibowo/Istimewa

JAKARTA - Bandung, 6 Oktober 1970, petang. Kesebelasan sepak bola Institut Teknologi Bandung (ITB) unggul 1-0 atas tamunya, taruna Akademi Angkatan Bersenjata Kepolisian.

Di pinggir lapangan, ratusan suporter bukan berteriak menjagokan kesebelasan mereka, melainkan saling ledek.

Sembari mengacungkan gunting, mereka menyindir razia celana ketat yang sering dilakukan polisi.

Ujung pantalon yang tidak muat dimasuki mulut botol langsung kena gunting. Ada juga yang memakai wig sebagai protes larangan gondrong.

Saat rehat, sebuah truk Brigade Mobil masuk ke area pertandingan. Suasana makin panas ketika ITB kembali membobol gawang lawan pada menit ke-15 babak kedua.

Mahasiswa masuk lapangan, Taruna mengadang dengan sabuk berkepala besi. Peluru berhamburan ke angkasa.

Pertandingan dihentikan dan taruna dipulangkan.

Di sisi barat Jalan Ganesha, Rene Louis Coenrad, 22 tahun, mengendarai Harley Davidson melewati tiga truk berisi taruna dan anggota Brimob.

Cekcok terjadi, Rene dikeroyok dan sepeda motornya dirusak. Senjata menyalak. Rekan Rene mendapati mahasiswa teknik elektro angkatan 1969 itu di kantor Kepolisian Besar 86 di Jalan Merdeka, tidak lagi bernyawa. Pundaknya tertembus pelor.

Hari berikutnya, Bandung lumpuh akibat unjuk rasa mahasiswa yang mengutuk kekerasan. Mereka menyetop mobil angkutan umum untuk mencari polisi dan tentara.

Beberapa pos polisi dikosongkan untuk menghindari bentrokan.

Mayor Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, yang saat itu menjabat Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Umum dan Darat, menyesalkan tragedi itu.

Menurutnya, kematian Coenrad menjadi puncak perpecahan mahasiswa dan tentara.

"Dik, ini berbahaya, tidak boleh dibiarkan," ujarnya kepada Ridwan Armansjah Abdulrachman, waktu itu 23 tahun.

Iwan, panggilannya, adalah adik lis Johana, sahabat Sarwo.

Iwan dan Sarwo sama-sama aktif di Perhimpunan Penem puh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Bandung.

Rekonsiliasi bergulir, dia mengundang mahasiswa ke kampus Akademi Angkatan Bersenjata di Magelang.

Pada 1973, sekitar 100 mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung, dan Universitas Trisakti, Jakarta, tiba di Lembah Tidar.

Mereka disambut Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Komandan Korps Taruna.

Iwan, perwakilan Unpad yang mengurus bidang kesenian, ingat betul kejelian Sarwo mencairkan hubungan kedua kubu yang sedang perang dingin itu.

Lagu ciptaan Iwan, yang menjadi lagu wajib pecinta alam waktu itu, Balada Seorang Kelana, diubah jadi Balada Seorang Taruna.


Syairnya:

Keheningan alam di tengah rimba sunyi, kumerana seorang diri sebagai seorang Taruna...

 

Kuberjuang penuh tekad demi nusa dan bangsa....


Hai Taruna, tabahkan hatimu, Tuhan slalu besertamu.

"Bayangkan, kami lagi benci taruna, malah disuruh menyanyi begitu," kata Iwan, keki.

Taktik itu berhasil, selama tiga hari dua malam, mahasiswa dan taruna melakukan hampir semua hal bersama.

Mulai makan, berdoa, bernyanyi, hingga berdiskusi. Cuma waktu tidur mereka berpisah barak. Pertandingan sepak bola, yang kembali dimenangi mahasiswa, berlangsung tanpa keributan.

Di ruang kelas, Yudhoyono memimpin diskusi.

"Suasananya akrab sekali," kata Iwan Sulanjana, taruna angkatan 1974, yang waktu itu kebagian tugas sebagai pemandu acara.

Sayang, kemesraan ini cepat berlalu. Pada 1973, Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Jenderal Soemitro melarang interaksi taruna-mahasiswa.

Komando itu merupakan pusat koordinasi intelijen yang langsung dikendalikan Presiden Soeharto.

Dengan dalih menjaga stabilitas keamanan, Jakarta menyatakan komunikasi dengan mahasiswa hanya dapat dilakukan oleh Kopkamtib.

Beberapa hari setelah larangan itu, Sarwo menghubungi Daud menyampaikan kekecewaan.

Hubungan di antara mereka terbangun sejak Daud meliput pemberantasan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa Tengah tahun 1965.

Dalam wawancara di rumah dinas di Magelang, Sarwo untuk pertama kali mengungkapkan alasan programnya itu: menghilangkan dikotomi sipil-militer.

Sarwo menilai hubungan baik militer dengan mahasiswi, yang sama-sama menumbangkan Orde Lama, sudah luntur.

Padahal mahasiswa sebagai calon pemimpin sipil dan taruna sebagai calon pemimpin militer merupakan sumber kekuatan Indonesia pada masa depan, sehingga perlu wadah bagi keduanya untuk berkomunikasi.

Ada juga program lain.

"Menghapus perpeloncoan," kata Iwan Sulanjana, yang pernah menjabat Panglima Divisi Siliwangi di Jawa Barat.

Saat baru menginjakkan kaki di kampus Akabri pada 1971, dia langsung jadi korban kekerasan senior, yang diistilahkan dengan "senggol-senggol".

Pernah juga dipaksa minum minyak ikan, yang baunya nauzubillah, sehingga banyak taruna muntah.

Ditambah latihan fisik, seperti berlari keliling Magelang dan naik Gunung Tidar, perpeloncoan sempat membuat Iwan ingin kabur.

Untung bagi Iwan cs, pelonco tahun itu hanya bertahan tiga hari. Sarwo menggantinya dengan masa orientasi sarat materi dan bimbingan, mirip masa perkenalan mahasiswa baru.

"Senior banyak yang kesal, tapi semua nurut," kata Iwan.

Tidak seperti program pembauran, kebijakan itu bertahan sampai sekarang.

Kristiani Herrawati alias Ani Yudhoyono dalam buku Kepak Sayap Putri Prajurit mengatakan ayahnya menikmati masa jabatan yang berlangsung pada 1970 sampai 1974 itu.

"Papi seperti menemukan pelabuhan jiwa," kata Ani.

"Sebab, pada dasarnya beliau suka mendidik." tambahnya.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini