Share

Kisah Persahabatan Soekarno-Hatta yang Kerap Berdebat soal Politik

Andika Shaputra, Okezone · Rabu 17 Agustus 2022 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 624 2648962 kisah-persahabatan-soekarno-hatta-yang-kerap-berdebat-soal-politik-k27sUFrVmx.jpeg Soekarno dan Hatta/Istimewa

JAKARTA - Bagi Soekarno dan Hatta, politik adalah jalan untuk mewujudkan idealisme. Oleh sebab itu, mereka kerap berdebat bahkan di saat usianya sudah tak lagi muda.

Namun keduanya memiliki prinsip bahwa politik tidak boleh memasuki ranah kehidupan pribadi.

 BACA JUGA:Peristiwa 16 Agustus: Soekarno-Hatta Diculik ke Rengasdengklok

Maka perdebatan kerap mewarnai perjalanan keduanya dalam kehidupan bernegara, hubungan pribadi antara keluarga Soekarno dan Hatta selalu baik dan hangat.

Persahabatan keduanya merupakan kisah manis yang tertulis dalam perjalanan sejarah bangsa. Banyak orang yang menjadi saksinya.

 BACA JUGA:3 Jenderal Terkenal di Era Soekarno

Melansir Buku (Otobiografi) karya Hasjim Ning berjudul 'Pasang Surut Pengusaha Pejuang', seorang pengusaha bernama Hasjim Ning, adalah keponakan Bung Hatta yang kemudian menjadi sahabat Bung Karno.

Ia salah satu orang yang sering menyaksikan persahabatan kedua proklamator itu.

Persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta bahkan sudah lebih dulu ada sebelum Hasjim menjadi sahabat Bung Karno.

Kisah itu terjadi pada tahun 1938, ketika Hasjim mengerjakan tugas dari ayahnya yang menjadi pemegang proyek rehabilitas jalan raya Bengkulu-Manna.

Suatu hari, Hasjim mendapat telfon dari sang ayah yang mengatakan dirinya mendapat surat dari Bung Hatta di Bada Neira.

Surat yang dibawa oleh orang Tionghoa itu memuat pesan Bung Hatta agar ayah Hasjim membantu keperluan Bung Karno selama di Bengkulu.

Hal itu dilakukan karena Bung Hatta mendengar kabar bahwa Bung Karno dipindahkan tempat pengasingannya dari Ende ke Bengkulu.

Mendapat tugas untuk membantu tahanan politik itu merupakan masalah yang besar. Kemudian, Hasjim mengutarakannya kepada Raden Mas Rasjid, orang yang ditunjuk ayah Hasjim untuk memimpin proyek tersebut.

Rasjid, yang ternyata kenal Bung Karno sejak di Bandung, lalu mempertemukan Hasjim dengan Bung Karno dua hari kemudian.

Di rumah Bung Karno, Hasjid disambut hangat sang tua rumah.

Ia langsung menjelaskan maksud kedatangannya. Alih-laih merespon maksud kedatangan Hasjim, Bung Karno justru menyatakan yang lain.

“Wah Hatta masih memikirkan aku. Tapi bagaimana dengan dia sendiri?” kata Bung Karno.

Mereka pun terlibat obrolan yang panjang, mulai dari penjelasan hubungan antara Hasjim dan Bung Hatta hingga hal-hal lain.

Upaya pemberian Hasjim baru ditanggapi Bung Karno setelah itu.

“Aku perlu sepeda dan topi helm. Topi helm berwarna gading tua, bukan cokelat,” kata Bung Karno.

“Tak ada yang lain, Bung?” tanya Hasjim.

“Tiga helai kemeja. Mereknya Van Huizen,” jawab Bung Karno.

Tak lama kemudian, Hasjim pun mewujudkan permintaan Bung Karno tersebut. Kebaikan Hasjid tidak pernah dilupakan Bung Karno.

Saat keduanya kembali bertemu saat masa pendudukan Jepang di rumah Bung Hatta di Oranje Boulevard 57, Bung Karno menceritakan itu semua di depan Bung Hatta.

Bung Hatta hanya memberikan komentar yang singkat dan datar.

“Ya, kebetulan sekali ada seorang kenalanku, pedagang Cina yang waktu itu mau ke Palembang menemui kakeknya yang sedang sakit,” kata Bung Hatta.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini