WHT akan terhubung ke perangkat pemetaan super cepat yang akan menganalisis setiap bintang yang ada beserta kecepatan perjalanannya. Metode tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana Bima Sakti terbentuk selama miliaran tahun ini.
Instrumen yang kemudian disebut dengan istilah “weave” ini dikembangkan oleh Profesor Gavin Dalton dari Universitas Oxford. Dalton pun mengatakan jika alat tersebut telah siap untuk digunakan.
Para ilmuwan hebat menyatukan misi untuk menemukan asal-usul bintang yang sering kita lihat di malam hari.
Mereka memasang WHT di puncang gunung Pulau Canary, Spanyol, dengan nama WHT Enhanced Area Velocity Explorer. Terdapat 80.000 bagian terpisah yang ada pada alat tersebut. Ini merupakan sebuah keajaiban dari sebuah rekayasa teknologi yang dibuat manusia.
WHT nantinya akan menunjuk setiap potongan langit untuk diidentifikasi. Jari-jari robot yang gesit ini akan menempatkan serat optik secara hati-hati dan tepat di setiap lokasi pelat.
Serat-serat tersebut adalah teleskop kecil yang masing-masing mampu menangkap cahaya dari satu bintang, lalu menyalurkannya ke instrumen lain. Serat-serat itu lalu akan membaginya lagi menjadi sebuah spektrum pelangi yang menjadi jawaban dari rahasia asal usul serta sejarah dari bintang-bintang tersebut.
Proses tersebut akan selesai dalam satu jam. Ketika sedang bekerja, serat optik yang digunakan untuk seribu bintang akan diposisikan secara terbalik dari pelat. Tujuannya untuk menganalisis rangkaian tagert berikutnya meskipun survey yang sebelumnya selesai.