Share

Atasi Masalah Global, ITB Dorong Penerapan Konsep Smarter The World Living Lab

Agung Bakti Sarasa, Koran SI · Sabtu 02 Juli 2022 13:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 02 65 2622323 atasi-masalah-global-itb-dorong-penerapan-konsep-smarter-the-world-living-lab-D0YRZVa38I.jpg ITB dorong penerapan konsep Smarter The World Living yang mengemuka/Agung BS

BANDUNG - Pada era Revolusi Industri 4.0 penggunaan teknologi, komunikasi, dan informasi semakin maju dan terus berkembang. Karenanya, digitalisasi merupakan katalisator dalam upaya pemulihan setiap sektor baik sektor ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan lain-lain.

Hal itu disampaikan Ketua Smart City and Community Innovation Center Institut Teknologi Bandung (SCCIC ITB), Profesor Suhono Supangkat saat membuka webinar bertajuk "International Collaboration for Quality of Life Development: Smarter The World Living Lab". Profesor Suhono juga menegaskan betapa pentingnya digitalisasi dalam menyukseskan agenda-agenda G20.

"Smarter The World Living Lab" merupakan salah satu tagline dalam T20 yang kongruen dengan digitalisasi. “Smarter The World Living Lab” adalah sebuah kolaborasi internasional yang mempertemukan inovasi-inovasi dari berbagai sektor dalam memecahkan isu kompleks baik di perkotaan maupun pedesaan.

"Misalnya, dalam mendukung perbaikan arsitektur kesehatan, Indonesia melakukan digitalisasi dengan meluncurkan aplikasi Peduli Lindungi yang berisi informasi penting tentang yang saling terintegrasi tentang penanganan pandemi Covid-19," kata Profesor Suhono Supangkat dalam keterangan resminya, (1/7/2022).

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, bahwa kolaborasi internasional dan multilateralisme merupakan kunci dalam mengatasi masalah global multidimensional yang dihadapi oleh dunia saat ini seperti dampak dari pandemi COVID-19, disrupsi rantai pasok dunia, perubahan iklim, dan konflik Rusia-Ukraina.

Lebih lanjut, Rosan juga menyebut, upaya Indonesia sebagai Presidensi G20 dalam mengatasi masalah-masalah yang ada dengan mengangkat tiga isu prioritas dalam presidensi G20 Indonesia tahun 2022 yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi ke arah energi yang berkelanjutan.

Sambutan lainnya datang dari Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi. Ia menyampaikan bahwa salah satu tujuan penting dalam SDGs adalah membuat perkotaan dan pemukiman penduduk menjadi inklusif, aman, dan berkelanjutan.

"Konsep smarter living lab memberikan ruang bagi kolaborasi antara pemerintah, penduduk, dan institusi penelitian untuk saling bahu-membahu menjawab masalah perkotaan yang marak muncul di beberapa tahun terakhir seperti kemacetan, banjir, dan kebutuhan terhadap ruang terbuka hijau (RTH)." katanya.

Dalam kerja sama bilateral Indonesia-Jepang, kata Heri, telah banyak terobosan-terobosan baru yang telah dicapai oleh kedua negara, misalnya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di perkotaan, Indonesia dan Jepang bekerja sama dalam upaya transisi ke arah energi terbarukan dalam mewujudkan low carbon smart city.

Selain itu, kerja sama antara kota dengan kota dan provinsi dengan provinsi juga dilakukan untuk mendukung capacity building dalam pembangunan smart city.

"Beberapa yang sudah terealisasi di antaranya kerjasama antara Kota Semarang dengan Toyama City, dan antara Kabupaten Kubu Raya dengan Niihama City." ungkapnya.

Terakhir, Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Suryopratomo dalam sambutannya juga mengangkat isu mengenai pentingnya kolaborasi antar setiap negara dalam upaya pemulihan setiap sektor yang terdampak oleh pandemi COVID-19.

Menurutnya, kerja sama dalam skala global berarti setiap negara mengesampingkan segala perbedaan demi mewujudkan sebuah tujuan bersama.

"Dalam Presidensi Indonesia di G20, Presiden Jokowi juga menekankan pada pentingnya inklusivitas dan kebersamaan antara negara-negara di dunia untuk terlibat dalam perwujudan tujuan global yaitu pulih dari krisis pandemi COVID-19," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini