Share

4 Tokoh Pendidikan di Papua, Prestasinya Mendunia!

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Senin 04 April 2022 03:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 31 624 2570845 4-tokoh-pendidikan-di-papua-prestasinya-mendunia-YWA1R3HIuY.jpg Hans J Wospakrik. (Foto: lipi)

JAKARTA - Papua merupakan bagian dari wilayah timur Indonesia yang letaknya berada di sebelah utara Australia. Sama seperti daerah lainnya, tanah Papua juga melahirkan sejumlah tokoh-tokoh pendidikan.

Tokoh-tokoh pendidikan tersebut memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan untuk Papua, bahkan mendunia berkat teorinya. Berikut tokoh-tokoh pendidikan di Papua.

• Thom Wospakrik

Lahir pada 1 Januari 1922, Thom Wospakrik merupakan tokoh utama pengurus Yayasan Pendidikan Kristen (YPK). Semasa hidup, ia memperjuangkan kemajuan pendidikan untuk orang Papua melalui YPK.

Thom mengawali kariernya sebagai guru pada tahun 1940-an di Biak. Selama 50 tahun, ia mengabdi sebagai pendidik untuk orang-orang Papua. Tokoh-tokoh intelektual yang sempat mendapat didikannya antara lain Hans Jacobus dan Yosina Wospakrik. Jasa-jasa Thom di bidang pendidikan pun bisa dikatakan sebagai “Ki Hadjar Dewantara” di Papua.

• Hans Jacobus Wospakrik

Hans Jacobus Wospakrik dan merupakan anak dari Thom Wospakrik. Hans lahir pada 10 September 1951 di Serui. Ia berkuliah di jurusan fisika di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1976. Di almamaternya itu, Hans kemudian menjadi dosen fisika teoretik.

Hans pernah mendapatkan penghargaan fisikawan terbaik dari Universitas Atma Jaya Jakarta atas jasa pengabdian dan dedikasi tinggi dalam penelitian fisika teori.

Buah pikirannya itu berupa metode-metode matematika guna memahami fenomena fisika dalam partikel elementer dan relativitas umum Einstein. Hasil-hasil penelitian yang dilakukannya juga dipublikasikan di jurnal internasional, seperti Modern Physics Letters A, International Journal of Modern Physics dan Physical Review D. Ia pun pernah mendapatkan penghargaan Nobel di bidang Fisika bersama tim penelitiannya di Utrech Belanda dan Michigan University.

• George Saa

George Saa, atau yang akrab dipanggil Oge, lahir pada 22 September 1986 di Manokwari. Ia sejak kecil telah mencintai fisika lewat keikutsertaan dan menjuarai berbagai lomba olimpiade. Dalam penelitian yang dilakukannya, George sempat mendapat bimbingan dari fisikawan Indonesia, Profesor Yohanes Surya.

Nama George mulai dikenal karena prestasinya saat memenangkan lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004. Penemuannya ia beri judul “Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor atau Rumus Penghitung Hambatan Antara Dua Titik Rangkaian Resistor, yang kemudian rumusnya dinamakan George Saa Formula.

Rumus buatan George ini menunjukkan cara menghitung hambatan dari suatu rangkaian tak terhingga dari bentuk segi enam. Rumus itu lalu dijadikan dasar untuk pembuatan sarang lebah dan dimanfaatkan pula untuk rangkaian elektronik yang berbentuk seperti sarang lebah.

• Yane Oktovina Ansanay

Yane Oktovina Ansanay dikenal sebagai fisikawan perempuan pertama asal Papua. Ia meraih gelar Ph.D di bidang fisika dari North Carolina State University di AS. Sebelumnya, ia menamatkan studi master fisika di universitas yang sama. Usai menyelesai studinya di Amerika Serikat, Yane bertekad untuk mengakhiri krisis energi di Papua melalui pemanfaatan teknologi energi baru dan terbarukan.

Ia menekuni studi fisika terapan khusus energi baru dan terbarukan itu sebagai bentuk kecintaannya terhadap Papua. Mengingat, di Papua masih banyak kampung yang belum mendapat aliran listrik. Menurut Yane, pemanfaatan energi baru dan terbarukan sangat mendesak di Papua.

Sebagai langkah awal mewujudkan hal tersebut, Yane bergabung dalam staf pengajar studi Teknik Geofisika. Yane juga menjadi pendiri Gerakan Papua Muda Inspiratif yang menghimpun SDM berprestasi dari berbagai lintas disiplin ilmu pengetahuan asal Papua.

Gerakan ini dilakukan untuk membangun SDM Papua yang lebih inovatif. Selain itu, ia juga mendapat tugas dari pemerintah untuk memimpin rencana pendirian laboratorium sains teknologi terpadu di Papua.

*Melansir dari berbagai sumber,

Maria Alexandra Fedho/Litbang MPI

 

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini