SOLO - Dosen Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Lintang Ronggowulan mengatakan, pada 2030 Indonesia diprediksi akan mencapai puncak bonus demografi.
Oleh karena itu, Lintang menambahkan, momentum tersebut tentu harus dihadapi dengan persiapan yang matang. Kondisi bonus demografi ditujukan ketika jumlah masyarakat usia produktif (15-64 tahun) lebih mendominasi dibandingkan masyarakat berusia non-produktif.
“Menurut perkiraan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappenas), pada tahun 2030 Indonesia akan memiliki jumlah penduduk dengan usia produktif mencapai 64% dari total penduduk Indonesia,” ujar Lintang dalam keterangannya, Sabtu (5/3/2022).
BACA JUGA:Mahasiswa UNS Ciptakan Emergency Call Barcode Permudah Cari Pertolongan Darurat
Lintang melanjutkan, bonus demografi ini dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Tergantung bagaimana upaya pemerintah dan masyarakat dalam menyambut kehadiran puncak bonus demografi di tahun 2030 mendatang.
“Bonus demografi adalah tantangan yang harus bisa dijawab. Karena bonus demografi dapat menjadi sebuah bencana demografi apabila tidak dipersiapkan dengan baik dan matang,” ungkap Lintang.
BACA JUGA:UNS Ambil Peran dalam Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik
Bonus demografi juga berarti tantangan akan persaingan kerja semakin terbuka dan keras. “Usia produktif yang mendominasi, sehingga perlu berbanding lurus dengan terbuka lebarnya lapangan pekerjaan. Apabila ketersediaan lapangan pekerjaan minim, maka dapat diprediksi mengakibatkan tingginya angka pengangguran. Inilah akar dari kemunculan bencana demografi,” imbuh Lintang.
.