Share

PTM Jadi Daring, Ini Tips Psikolog UB ke Orangtua dan Guru

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 15 Februari 2022 17:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 15 65 2547551 ptm-jadi-daring-ini-tips-psikolog-ub-ke-orangtua-dan-guru-EkTcc7eiGc.jpg Ilustrasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) (Foto Antara)

MALANG - Pemberlakuan kembali pembelajaran jarak jauh (PJJ) mengganti pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia memiliki dampak pada psikologis anak.

Tercatat di Kota Malang sendiri sudah mulai menerapkan PJJ atau pembelajaran daring. Sedangkan di Kabupaten Malang, Bupati Malang Sanusi telah mengambil sikap kembali memberlakukan sekolah online di daerah dengan kasus Covid-19 tinggi.

Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka kembali menjadi daring dinilai Psikolog Universitas Brawijaya (UB) Ari Pratiwi menimbulkan perasaan ketikdapastian kepada anak. Pasalnya perubahan ini memang fleksibel dan terkesan mendadak.

Baca juga: Disdik Kediri Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh Cegah Omicron

“Mereka kan termasuk baru memulai adaptasi dari rumah ke sekolah sekarang di rumah lagi. Tentu hal ini membuat anak anak akan merasa tidak pasti. Kita saja yang dewasa kadang merasa tidak pasti perasaannya tidak senang juga,” ucap Ari Pratiwi, kepada MNC Portal, pada Senin (14/2/2022).

 Baca juga: Siswa di Tangsel Kembali Belajar Daring, Orang Tua Diminta Waspada Covid-19 di Rumah

Hal ini membuat Psikolog Ari Pratiwi memberikan empat tips yang dapat digunakan orang tua dan anak saat pemberlakuan sekolah online dapat berjalan dengan lancar.

Pertama, dikatakan Ari Pratiwi sikap fleksibel perlu di kedepankan orang tua kepada anak-anak karena adanya kebijakan peubahan PTM, yang bisa berubah setiap saat.

“Orang tua mengajarkan sikap fleksibel, sebab kalau kaku malah membuat anak - anak stres di rumah, perilaku mereka tidak terkendali dan jika direspon negatif oleh orang tua malah akan membuat konflik,” ucapnya.

Sikap fleksibel ini menurut Ari, akan membuat anak siap dalam kondisi apapun kebijakan PTM yang akan dilakukan,meski kebijakannya berubah-ubah.

Maka dosen Psikologi di Universitas Brawijaya ini menyebut, orang tua wajib memahami perasaan anak. Sebab ada potensi anak-anak yang sudah semangat, tapi ternyata mereka waktunya belajar di rumah, atau sebaliknya. Dimana seharusnya belajar di sekolah malah mereka malas untuk ke sekolah.

“Ini perlu orang tua memahami perasaan misal bilang oh lagi semangat ya ke sekolah tapi sayang kita sekarang belajar di rumah dulu ya,” imbuh alumni Universitas Indonesia ini.

Tips ketiga yang diberikannya yakni mengatur waktu dan menjalankannya dengan konsisten. Dimana Ari perlu menyarankan, orang tua membuat aturan bahwa meski anak belajar di rumah, maka perilakunya sama dengan ketika belajar di sekolah salah satunya tetap bangun pagi.

“Harus konsisten meski di rumah harus tetap bangun pagi. Jangan sampai tidak teratur, ritmenya sama konsisten, meski di rumah ya tetap pagi sehingga ritmenya terjaga,” katanya.

Orang tua kata Ari, juga perlu membuat catatan kapan sang anak belajar di sekolah. Sekaligus jika orang tua adalah pekerja, maka juga perlu membuat catatan jadwal sehingga orang tua bisa mengantisipasi lebih awal, jika anak belajar di rumah sementara orang tua harus bekerja.

“Kalau anak terjadwal belajar di rumah, sementara orang tua bekerja ini akan repot maka perlu ada catatan jadwal sehingga bisa diantisipasi lebih awal,” terangnya.

Sementara itu ia menyarankan sekolah menciptakan situasi pembelajaran yang nyaman di saat kebijakan PTM yang bisa berubah sewaktu - waktu. Mengingat jika pembelajaran di rumah atau secara daring, guru kerap mengajarnya lebih satu arah.

"Guru sudah pernah mengajar full di sekolah dan sekarang tidak penuh lagi tentu mereka harus menyamakan lagi. Guru harus berikan hal yang sama meski ada siswa yang belajar di rumah. Tentu guru harus mampu mengatur ini,” tuturnya.

Selain itu, untuk usia SMP dan SMA yang mulai terbiasa dengan kerja kelompok harus kembali juga belajar dari rumah. Ari menilai hal ini akan menjadi tantangan untuk guru untuk mengatur lagi.

“Sebab guru sudah mulai konsisten ritmenya sekarang berubah lagi. Tentu kuncinya adaptasi sebab kesulitan tidak hanya dialami guru tapi siswa dan orang tua,” pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini