Share

3 Tokoh Pendidikan RI Keturunan Tionghoa, Nomor 2 Kakak Kelas BJ Habibie di ITB

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 06 Februari 2022 12:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 03 65 2541954 3-tokoh-pendidikan-ri-keturunan-tionghoa-nomor-2-kakak-kelas-bj-habibie-di-itb-zGOpK52375.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

 JAKARTA - Tokoh pendidikan merupakan seorang yang berjuang dan memiliki jasa di dalam dunia pendidikan. Di setiap negara pasti memiliki tokoh pendidikan entah dari etnis maupun ras apapun.

Di Indonesia sendiri banyak tokoh yang berasal dari banyaknya etnis yang ada, salah satunya etnis Tionghoa. Berikut merupakan tokoh-tokoh keturunan Tionghoa yang berperan dalam dunia pendidikan Indonesia.

Joe Hin Tjio

Pria kelahiran Pekalongan, 2 November 1919 ini merupakan seorang ilmuwan berdarah Tionghoa. Ia memiliki peran besar dalam bidang genetika. Semasa menjadi ilmuwan tamu di di Institute of Genetics di Lund, Swedia, Tjio membuat gempar dunia ilmu pengetahuan.

Pada 22 Desember 1955 Tjio mengembangkan teknik memisahkan kromosom di preparat kaca. Hasilnya, ia menemukan ada 46 kromosom atau 23 pasang kromosom pada jaringan embrionik paru-paru manusia.

Hal ini sekaligus membantah temuan Theophilus Painter yang mengatakan kromosom manusia berjumlah 24 pasang. Pada 26 Januari 1956, temuan Tjio masuk dalam Scandinavian Journal Hereditas.

Ken Liem Laheru

Nama Ken Liem Laheru tidak bisa dilepaskan dari hadirnya jurusan Teknik Penerbangan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Jurusan tersebut diinisiasi oleh pria kelahiran Kadugede, Kuningan, Jawa Barat pada 23 Agustus 1935 bersama rekannya, Oetarjo Diran. Keduanya sempat mengenyam pendidikan di Teknik Kimia ITB sebelum kemudian belajar di Eropa.

Laheru yang kuliah di jurusan Aeronautika di RWTH Aachen, merupakan kakak kelas BJ Habibie. Oleh Habibie, ia diperkenalkan kepada Diran yang kuliah di TU Delft Belanda dengan jurusan yang sama.

Sewaktu kembali ke Indonesia tahun 1960, pemilik nama asli Liem Kengkie ini membantu Diran mengajar mata kuliah teknik penerbangan. Diran, yang pulang lebih dahulu, langsung mengajar di ITB dan menawarkan mata kuliah pilihan teknik penerbangan untuk mahasiswa jurusan mesin tahun ketiga.

Sejak itulah, keduanya bahu-membahu mengajar ilmu teknik penerbangan, hingga kemudian didirikan sub-jurusan Teknik Penerbangan di bawah Teknik Mesin ITB pada 1962. Namun, ketika terjadi prahara politik, Laheru memutuskan hijrah ke Amerika Serikat di tahun 1969. Ia aktif menulis jurnal ilmiah internasional yang sebagian diterbitkan sebagai laporan teknik di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Siauw Giok Tjhan

Siauw Giok Tjhan merupakan salah satu pejuang kesamarataan etnis Tionghoa. Beliau lahir di Kapasan, Jawa Timur pada 23 Maret 1914. Di bangku sekolah, Siauw aktif di organisasi kepanduan dan di usia 18 tahun Siauw sudah masuk partai Tionghoa Indonesia yang didirikan Liem Keen Hien.

Pergerakannya di Partai Tionghoa fokus pada gagasan tentang kesamarataan. Tahun 1933, Siauw bekerja sebagai asisten The Boen Ling, pemimpin harian Sin Tit Po di Surabaya. Ide-idenya menentang kolonialisme pun mulai tersebar melalui harian tersebut. Bekerja di Harian Matahari juga membuat Siauw bisa mendekatkan diri dengan pejuang-pejuang kemerdekaan.

Tahun 1945 Siaw masuk Partai Sosialis Indonesia lalu menjadi anggota KNIP sebagai Badan Pekerja KNIP. Suara-suara kritisnya membuat dia dilirik Bung Karno dan Sjahrir. Tahun 1947 ia diangkat menjadi Menteri Urusan Minoritas dalam Kabinet Syarifuddin.

Selama menjadi anggota dewan, Siauw dikenal sebagai orang yang memperjuangkan persamaan hak bagi warga negara dan antidiskriminasi. Melalui Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia, ia juga bergerak mengorganisasikan pendidikan dengan mendirikan 107 sekolah pada 1961. Ia merupakan salah satu pendiri Universitas Res Publika (kini Universitas Trisakti)

*dilansir dari berbagai sumber,

Maria Alexandra Fedho/ Litbang MPI

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini